KOLOM, MaduraPost – Di antara hiruk-pikuk hari yang kian padat, liburan ke Hotel Myze menjadi jeda yang kita berempat butuhkan.
Aku masih ingat bagaimana mata dua anak laki-laki kita langsung berbinar begitu sepeda motor memasuki halaman hotel, mereka berlari kecil ke lobby, menepuk-nepuk lantai marmer seakan itu tanah baru yang harus dijelajahi.
“Mi, akhirnya Papa menepati janji,” ujar anakku seng lanang.
Kita bertiga tertawa melihat tingkah mereka, sementara kamu berdiri di sampingku, menatapku dengan senyum yang menenangkan, seolah berkata, “Akhirnya, kita bisa bernapas bersama.”
Kamar kita di lantai 1. Begitu pintu terbuka, dua bocah itu langsung heboh, satu memeriksa kasur melompat kecil, satu lagi berteriak melihat pemandangan biru yang memanggil-manggil.
Dan di antara riuhnya, kamu menggenggam tanganku sebentar, membuatku sadar bahwa kebahagiaan kadang sesederhana berada di tempat yang sama, pada waktu yang sama, bersama orang-orang yang kita cinta.
Sore itu, kita menghabiskan waktu di dalam kamar hotel. Suara tawa anak-anak memecah udara, ingin berlomba, ingin menyelam, ingin menunjukkan setiap “skill baru” yang selalu membuat kita berdua saling pandang sambil tertawa.
Malamnya, kita makan di restoran hotel. Lampu-lampu kuning membuat suasana hangat, dan anak-anak sibuk memilih menu seakan sedang menghadiri gala dinner.
Di antara piring yang mulai kosong dan cerita-cerita kecil yang mereka bagi, aku dan kamu sempat saling diam, bukan karena tak ada kata, tapi karena penuh.
Penuh syukur, penuh rasa saling memiliki, penuh rasa bahwa perjalanan kita, meski tak selalu mudah, membawa kita sampai di meja ini, malam ini.
Angin malam membawa aroma rintik hujan yang usai sejak sore. Anak-anak bersandar di kita, satu di kamu, satu di aku.
Sesaat semuanya terasa begitu pas sebuah momen yang biasanya hanya muncul di mimpi atau film, tapi malam itu nyata, hidup, dan milik kita.
Liburan di Hotel Myze bukan sekadar liburan. Ia adalah pengingat bahwa kita sudah berjalan jauh kamu, saya, dan dua anak laki-laki hebat kita.
Bahwa rumah bukan hanya tempat, tetapi kita berempat. Bahwa dunia sebesar apa pun akan selalu terasa kecil ketika kita berada dalam lingkaran yang sama, berbagi tawa, langkah, dan cerita.
Dan malam itu, di kamar hotel, aku tahu satu hal dengan pasti, kita adalah tim yang akan selalu menemukan jalan untuk kembali ke kebahagiaan, ke mana pun hidup membawa kita. (*)
Sumenep, 6 Desember 2025






