Gagasan Literasi Pemkab Pamekasan Dikritik Pakai Istilah ‘Sabu’

  • Bagikan
Pemerintah Kabupaten Pamekasan dalam program pendidikan membrikan nama Sagu Sabu yang berarti satu guru satu sabu. (foto: Ra Baddrut Tamam)

PAMEKASAN, MaduraPost – Gagasan literasi Pemerintah (Pemkab) Pamekasan dalam merancang terobosan baru di dunia pendidikan dikritik sejumlah elemen masyarakat karena memakai istilah ‘Sabu’. Pasalnya pemerintah melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayan memberi nama ‘Sagu Sabu’ yang berarti ‘Satu Guru Satu Buku’.

Program ini diluncurkan bertepatan dengan momen Hari Guru Nasional di Mandhapa Aghung Ronggosukowati, Kamis (25/11/2021). Harapannya program tersebut bisa menjadi gerakan literasi yang diminati oleh masyarakat.

BACA JUGA :  Warga Protes Gedung Serbaguna Waru Dijadikan Tempat Isolasi Covid

“Bumi hebat terlalu banyak pencitraan. Sehingga tidak terbesit bagaimana mana dampak terhadap para murid, karena dari kalimat satu guru satu buku bisa mengingatkan atau mengenalkan murid dalam sebuah nama sabu,” kata pendiri Posko Perjuangan Masyarakat Pantura (P2MP) Nasir Abdillah, Sabtu (27/11).

Nasir meminta pemerintah daerah agar hati-hati dalam memberi sebuah istilah. Sebab meski terlihat biasa-biasa saja bukan tidak mungkin nama yang selalu diingat secara berulang oleh masyarakat bisa mengantarkan sebuah rasa penasaran. Sementara sabu yang diketahui masyarakat adalah barang haram yang dapat merusak moral.

BACA JUGA :  Peringati Maulid Nabi, PEKAN Pademawu Barat Gelar Khitanan Massal Gratis

“Kami selaku masyarakat sangat resah dan gelisah dengan kata sabu, jadi jangan pakai nama tersebut kalau hanya dibuat pencitraan,” ujarnya.

Sebelumnya Bupati Pamekasan Baddrut Tamam menyampaikan, seputar pendidikan dan meminta guru ASN atau non ASN tidak main-main dengan pendidikan. Siapa yang bermain-main dengan pendidikan akan berdampak luar biasa, tidak hanya untuk perjalanan pendidikan itu sendiri, tetapi bagi perjalanan bangsa dan negara.

BACA JUGA :  Sekcam Turun Tangan Soroti Proyek TPT Bermasalah di Desa Kacok

“Bukan soal ilmu pengetahuan saja yang ingin kita transformasikan, tetapi nilai, attitude, akhlakul karimah, prilaku, watak dan sumber-sumber lain yang juga harus ditransformasikan oleh guru,” ujarnya.

Target Pamekasan sebagai kabupaten literasi membutuhkan gerakan bersama untuk mewujudkannya. Atmosfer literasi itu harus diciptakan, karena menulis itu bukan pekerjaan sederhana. Harus fokus sesuai dengan apa yang mau ditulis.

  • Bagikan