Anggotanya Diciduk Polisi, Ketua FKMS Ricuh dengan Polisi

  • Bagikan
RICUH. Ketua FKMS ricuh dengan polisi saat tahu anggota diciduk polisi. (M. Hendra. E)

SUMENEP, MaduraPost – Usai melakukan aksi tunggal, anggota Front Keluarga Mahasiswa Sumenep (FKMS) malah diciduk polisi. Tanpa alasan yang jelas, usai demo tunggal berlangsung, tim Jokotole Polres Sumenep, Madura, Jawa Timur, mendatangi sebuah warung kopi yang tak jauh dari Mapolres setempat.

Pantauan MaduraPost di lapangan, sejumlah mahasiswa ikut digelandang polisi, hingga tiga orang diantaranya ikut diamankan ke Mapolres setempat.

Waka Polres Sumenep, Kompol Palma Fitria Fahlevi mengatakan, jika mahasiswa tersebut telah melanggar aturan yang berlaku, yakni tidak diperbolehkan melakukan aksi demonstrasi di hari libur nasional.

BACA JUGA :  Vaksin Tahap Ketiga di Sumenep, Dinkes Sumenep Minta Masyarakat Menyiapkan Diri

“Seperti yang tadi, mahasiswa ini telah menggelar aksi di hari libur nasional, itu tidak diperbolehkan. Kami sudah ingatkan dengan baik-baik, tapi malah tidak didengarkan,” ungkapnya, pada awak media, Selasa (1/6).

Ditanya soal diciduknya mahasiswa, Palma menerangkan jika hanya meminta keterangan kepada mahasiswa terkait.

“Sementara kami amankan dan minta keterangan dulu pada mahasiswa ini,” kata dia.

BACA JUGA :  Jalan Provinsi Menuju Rumah Wakil Bupati Pamekasan Diperbaiki dengan Swadaya Masyarakat

Ditanya lebih detail terkait pembubaran sejumlah mahasiswa yang tak ikut aksi tunggal itu, Palma menegaskan jika hanya melaksanakan aturan yang berlaku.

“Ya untuk yang dibubarkan di warung kopi itu, kami sebenarnya ingin mengatakan kalau tidak boleh melakukan aksi di hari libur,” jelasnya.

Sementara itu, Sutrisno, Ketua FKMS mengatakan jika telah melayangkan surat resmi atas aksi yang akan dilakukannya itu. Namun sayang, dirinya juga menerima perlakuan yang kurang baik dari aparat kepolisian.

BACA JUGA :  Hujan Turun di Musim Kemarau, Begini Penjelasan BMKG

“Kami secara resmi telah melayangkan aksi demonstrasi hari ini, tapi kenapa tidak ada surat pemberitahuan jika memang tidak boleh melakukan aksi. Bahkan, polisi menganggap telah melakukan pemberitahuan, saya tidak merasa menerimanya selaku ketua FMKS,” tanya Sutrisno dengan nada geram.

Parahnya, menurut Sutrisno, dirinya mengaku dipukul dan menerima tindakan anarki dari anggota polisi.

“Ini buktinya, dahi saya terluka benjol,” tukasnya.

  • Bagikan