AJI Surabaya Gelar Pelatihan Jurnalis Tentang Ancaman Bahaya Saat Liputan

Avatar

SURABAYA, MaduraPost – Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Surabaya menggelar pelatihan bertajuk Training Safety Journalist and Security untuk tak kurang dari 20 jurnalis dari berbagai platform.

Pelatihan ini telah digelar selama sepekan, mulai dari 25 September 2021 hingga 01 Oktober 2021.

Pelatihan ini digelar melalui kerjasama antara AJI Surabaya dengan AJI Indonesia serta USAID dan Internews.

BACA JUGA :  Kurikulum Darurat di Masa Pandemi Covid-19, Disdik Sumenep Gandeng Tim Inovasi Jawa Timur

Sekretaris AJI Surabaya, Yulianus Andre Yuris mengatakan bahwa pelatihan ini digelar karena jurnalis dianggap membutuhkan tambahan keterampilan untuk menghadapi situasi-situasi yang mengancam keselamatannya.

“Jurnalis seringkali harus turun dalam liputan-liputan yang berisiko, seperti di lokasi bencana dan lokasi unjuk rasa. Karena itu, jurnalis membutuhkan tambahan keterampilan untuk mencegah hal-hal yang membahayakan jiwanya ketika melakukan tugas jurnalistik,” kata Andre melalui pernyataan tertulis.

BACA JUGA :  Disdik Sumenep Gandeng Tim Inovasi Jawa Timur Gelar Workshop Penguatan Kurikulum Jenjang SD

“Jurnalis juga masih menghadapi ancaman-ancaman kekerasan seperti yang terjadi pada jurnalis Tempo, Nurhadi, yang saat ini kasusnya sudah masuk tahapan persidangan,” sambungnya.

Dia mengatakan, dalam rangkaian pelatihan tersebut, jurnalis mendapatkan tambahan pengetahuan dari dua mentor yang telah menjalani tahapan training of Trainer yang diselenggarakan AJI Indonesia.

Pelatihan tersebut juga mendatangkan dua narasumber tamu, yakni pengacara Salawati Taher dari LBH Lentera yang merupakan pengacara mitra AJI Surabaya, serta pakar hukum pers, Herlambang P Wiratraman.

BACA JUGA :  Leprid Berikan Penghargaan Kepada Disdik Sumenep dalam Pembacaan Macapat Terlama se-Dunia

“Materi-materi yang dibagikan meliputi cara-cara aman meliput bencana, meliput konflik, menghindari pelecehan seksual, hingga menghindari ancaman-ancaman digital yang saat ini juga makin kerap terjadi. Peserta juga dilatih bagaimana cara mengatasi apabila menjadi sasaran ancaman kekerasan,” sambungnya.