PAMEKASAN, MaduraPost – Mohammad Rosul pemuda Dusun Oro, Desa Sana Daja, Kecamatan Pasean, berkreativitas diri jadi ahli servis lampu. Menariknya, dari usaha elektronik tersebut, putra dari pasangan Muarrof dan Jaima ini berhasil menempuh gelar sarjana, tanpa membebani orangtua.
“Awalnya kami was-was untuk berkuliah, karena melihat dari sisi pendapatan orangtua sepertinya mereka tidak bisa terlalu diharapkan. Sehingga saudara kami memberi jalan agar membuka servis lampu,” kata Mohammad Rosul kepada Madura Post, Minggu (3/5/2020).
Jalan usaha tersebut, kata Rosul, jadi alternatif tambahan pendapatan ketika hendak melanjutkan kuliah. Terlebih dirinya memiliki bakat di bidang elektronik. Sehingga saran saudaranya tersebut jadi pertimbangan.
Pengakuan Rosul, dirinya jadi tukang servis lampu kurang lebih berjalan lima tahun. Sebagaimana awal masuk kuliah hingga lulus menyandang gelar sarjana. Selama proses kuliah, Rosul sepeserpun tidak pernah meminta uang orangtuanya.
“Pendapatan kami murni berkat usaha servis lampu. Baik uang semester maupun uang jajan sehari-hari selama kuliah,” ungkapnya.
Servis lampu tersebut, Rosul tidak hanya berdiam di rumah. Ada pekan tertentu yang harus dijajaki ke pasar, yakni pada hari Senin, Selasa, Jumat, dan Sabtu. Seminggu Rosul punya kegiatan dagangannya selama empat kali.
Pasar tersebut antara lain, Pasar Keles Dempo Barat, dan Pasar Tokur Dempo Timur. Di Pasar Keles, Selasa dan Sabtu, Pasar Tokur, Senin, dan Jumat.
Setiap kali menjajaki dagangannya, Rosul minimal mendapatkan penghasilan antara Rp 300 ribu hingga 500 ribu. Pendapatan tersebut menyesuaikan dengan kebutuhan masyarakat pada musim-musim tertentu.
Semula, usahanya tersebut digerakkan membutuhkan modal Rp 2 juta. Modal ini dibuat membeli bahan mentah lampu, dan perkakas lainnya yang dibutuhkan. Sekali merakit, harganya pun juga bervariasi, mulai dari Rp 15 ribu hingga Rp 35 ribu.
Sementara itu, Kepala Desa Sana Daja Qomaruddin menyambut baik kreativitas pemuda di desanya hidup mandiri jadi pengusaha elektronik. Upaya tersebut, kata dia, perlu dijadikan contoh oleh masyarakat.
“Bagus, artinya dia punya kemandirian, kuliah tanpa membebankan orangtua,” singkatnya. (mp/rus/red)






