Scroll untuk baca artikel
Daerah

Wirya Minta Direktur Utama BNI Tidak Mencampuradukkan Antara Hak dan Batil

Avatar
163
×

Wirya Minta Direktur Utama BNI Tidak Mencampuradukkan Antara Hak dan Batil

Sebarkan artikel ini
KOLASE. Ilustrasi kepemimpinan dan keteladanan pengembang Perumahan Bukit Damai, Gedung Kantor Pusat BNI, serta sosok Khalifah Umar bin Khattab yang dijadikan rujukan nilai keadilan dan ketegasan dalam menyikapi polemik KPR. (Istimewa for MaduraPost)
KOLASE. Ilustrasi kepemimpinan dan keteladanan pengembang Perumahan Bukit Damai, Gedung Kantor Pusat BNI, serta sosok Khalifah Umar bin Khattab yang dijadikan rujukan nilai keadilan dan ketegasan dalam menyikapi polemik KPR. (Istimewa for MaduraPost)

SUMENEP, MaduraPost – Pengembang Perumahan Bukit Damai, Nanda Wirya Laksana, meminta Direktur Utama PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk agar tidak mencampuradukkan antara hak dan batil dalam menyikapi persoalan internal yang mencuat belakangan ini.

Ia menekankan pentingnya sikap arif, tegas, dan bijaksana sebagaimana teladan kepemimpinan Khalifah Umar bin Khattab dalam mengamalkan firman Allah SWT, khususnya Surah Al-Baqarah ayat 42.

SCROLL UNTUK MELANJUTKAN MEMBACA
SCROLL UNTUK MELANJUTKAN MEMBACA

Menurut Wirya, mencuatnya kasus Firda menjadi ujian nyata bagi jiwa kepemimpinan Direktur Utama BNI. Ia mengingatkan agar pucuk pimpinan tidak justru melindungi seluruh jajaran staf yang terlibat dalam ketidakbenaran hanya karena alasan hierarki atau loyalitas struktural.

“Dengan adanya kasus ini, Dirut BNI sedang diuji jiwa leadership-nya. Jangan sampai karena ini merupakan kepanjangan tangan di bawah, lalu pimpinan justru melindungi seluruh jajaran staf yang terlibat dalam ketidakbenaran,” tegas Wirya, Jumat (16/1).

Wirya juga menegaskan, bahwa pengakuan atas kesalahan tidak akan menjatuhkan martabat seseorang maupun institusi. Sebaliknya, kejujuran justru akan meninggikan kehormatan di mata publik.

“Tidak ada yang namanya orang mengakui kesalahan membuat marwah pribadi maupun organisasi menjadi jatuh. Justru ketika kesalahan diakui, marwah dan kehormatan itu akan semakin tinggi karena masyarakat akan respect,” ujarnya.

Baca Juga :  UNIBA Madura Buka Peluang Kuliah Gratis, Jadi Pilihan Utama Pelajar Sumenep

Untuk memperkuat pandangannya, Wirya mengisahkan sebuah peristiwa bersejarah pada masa pemerintahan Khalifah Umar bin Khattab. Kisah itu bermula dari seorang laki-laki tua Yahudi yang tinggal di sebuah gubuk tidak layak huni, berdekatan dengan Istana Gubernur Amr bin Ash di Mesir.

Pada suatu waktu, Amr bin Ash berniat melakukan perluasan masjid yang berada di lingkungan istananya.

Namun, rencana tersebut terhalang oleh keberadaan gubuk milik laki-laki Yahudi tersebut. Amr bin Ash kemudian memerintahkan jajarannya untuk membeli gubuk itu, bahkan dengan harga di atas nilai pasar.

Akan tetapi, permintaan tersebut tetap ditolak oleh sang pemilik.

Karena penolakan itu, Amr bin Ash akhirnya murka dan menggunakan kekuasaannya untuk menggusur gubuk tersebut.

Merasa terzalimi dan tidak berdaya, laki-laki Yahudi itu kemudian menempuh perjalanan jauh untuk mengadukan peristiwa tersebut kepada Khalifah Umar bin Khattab di Madinah.

Setibanya di Madinah, ia menceritakan seluruh kronologi kejadian dari awal hingga akhir. Mendengar laporan tersebut, Khalifah Umar bin Khattab lalu memberikan sepotong tulang onta yang terdapat bekas garis lurus panjang hasil goresan ujung pedang. Khalifah Umar memerintahkan agar tulang itu disampaikan kepada Amr bin Ash di Mesir.

Baca Juga :  Perbaikan Infrastruktur di Sektor Wisata Jadi Atensi Disbudporapar Tahun Ini

Saat tulang tersebut diserahkan, Amr bin Ash seketika gemetar hebat diliputi ketakutan. Situasi itu membuat seluruh penghuni istana, termasuk laki-laki Yahudi tersebut, merasa heran.

“Aku telah melaporkanmu kepada Umar bin Khattab, dan Umar menitipkan tulang onta ini kepadaku untuk diberikan kepadamu,” ucap laki-laki Yahudi itu kepada Amr bin Ash.

Dengan penuh keheranan, ia pun bertanya, “Amr bin Ash, itu hanya sepotong tulang onta, mengapa engkau bergetar begitu hebat?”

Dengan bibir bergetar dan rasa takut yang mendalam, Amr bin Ash menjawab bahwa itu merupakan peringatan keras dari Khalifah Umar agar dirinya tetap berlaku lurus, adil, dan tidak menyimpang dari kebenaran. Jika tidak, Khalifah Umar akan menegakkan hukum tanpa pandang bulu.

Usai peristiwa itu, Amr bin Ash segera memerintahkan seluruh jajarannya untuk membangun kembali rumah laki-laki Yahudi tersebut dan secara terbuka menyampaikan permohonan maaf.

Baca Juga :  Sosialisasi 4 Pilar, Slamet Ariyadi Mengajak Santri dan Mahasiswa Menghargai Perbedaan

Namun, sikap adil dan ketegasan Amr bin Ash justru membuat laki-laki Yahudi itu tersentuh. Ia meminta agar rumahnya tidak perlu dibangun kembali dan menyatakan kekagumannya terhadap keadilan Khalifah Umar bin Khattab.

“Aku belum pernah menjumpai manusia semulia Umar, seadil Umar, dan sebijaksana Umar,” ucapnya, seraya menghibahkan gubuk tuanya untuk kepentingan Islam.

Tak hanya itu, ia pun mengucapkan dua kalimat syahadat, “Asyhadu an laa ilaaha illallaahu, wa asyhadu anna muhammadar rasuulullah.”

Dari kisah tersebut, Wirya menilai terdapat pesan penting yang relevan dengan kondisi saat ini. Menurutnya, ketika hak dan batil tidak dicampuradukkan, maka kebijaksanaan dan keadilan akan hadir dalam menyelesaikan setiap persoalan.

Pesan lainnya, lanjut Wirya, adalah bahwa niat baik, sekalipun untuk kepentingan agama, tidak boleh ditempuh dengan cara yang melanggar hak orang lain. Nilai kebenaran dan keadilan harus tetap dijunjung tinggi dalam kondisi apa pun.

Di akhir pernyataannya, Wirya berharap seluruh jajaran BNI, baik di tingkat pusat maupun daerah, dapat meneladani sifat-sifat kepemimpinan Khalifah Umar bin Khattab dalam menjalankan amanah dan tanggung jawab institusi.***