DENPASAR, MaduraPost – Anggota Persatuan Jurnalis Sampang (PJS) bertandang ke Pulau Dewata Bali. Hal itu untuk menggelar kongres perdananya. Sebelum menggelar kongres semua anggota PJS menyempatkan diri berziarah ke makam Raden Ayu Sitti Khotijah yang berada di Jalan Gunung Batukaru, Pamecutan, Kecamatan Denpasar Barat, Kota Denpasar, Bali. Rabu (06/09/2023).
Sejarah singkat Raden Ayu Sitti Khotijah.
Nama Aslinya Raden Ayu Made ray anak dari raja Pamecutan yang berada di Bali. Kala itu Raden Ayu mengalami sakit yang tak kunjung sembuh. Konon katanya Raden Ayu terkena penyakit kuning, karena tidak kunjung sembuh maka orang tuanya, raja Pamecutan Mengadakan sayembara. Barangsiapa yang bisa menyembuhkan putrinya kalau perempuan akan dijadikan saudara dan apabila yang bisa menyembuhkan adalah laki laki maka akan dijodohkan dengan Sang Putri.
Hal itu dibenarkan oleh I Wayan Bagus salah seorang yang juga merupakan keturunan dari Raja Pamecutan. Dari cerita I Wayan saat diwawancara oleh media ini mengatakan, sayembara yang dilakukan oleh raja sontak membuat geger seluruh nusantara.
“Dan salah satu yang ikut sayembara itu adalah Raja Cakraningrat IV berasal dari Bangkalan Madura,” ucap Wayan.
Menurut I Wayan, Cakraningrat IV tersebut datang ke kediaman raja untuk mengobati Putri Ayu yang sudah lama sakit.
“Raja Cakraningrat berhasil menyembuhkan sang putri raja dalam satu minggu,” tambahnya.
Sesuai dengan janji raja tersebut maka pangeran Cakraningrat IV lantas dinikahkan dengan Raden Ayu Made Ray.
“Setelah beliau menikah, maka Raden Ayu dibawa pangeran untuk tinggal di Madura.
Dari cerita I Wayan, Pangeran Cakraningrat IV bersama Raden Ayu tinggal di Madura selama 25 tahun dan nama berganti menjadi Raden Ayu Siti Khotijah. Setelah 25 tahun di Madura Raden Ayu kembali pulang ke Bali untuk mengobati rasa rindunya.
“Raden Ayu kembali Pulang ke Bali bersama 40 pengawalnya dari Madura,” tanbahnya.
Akan tetapi menurut I Wayan, setelah sampai di Bali Raden Ayu sering ketahuan shalat. Hal tersebut diketahui beberapa kali oleh pengawal Raja Pamecutan.
“Kalau agama kami kan kalau shalat menghadap ke timur, tapi raden ayu shalat menghadap ke barat, disitu pengawal raja langsung melaporkannya,” cerita Wayan.
Setelah mendengar cerita tersebut, Raja Pamecutan memerintahkan anak buahnya untuk membunuh putrinya tersebut kata wayan melanjutkan ceritanya kepada media.
“Namun raden ayu bilang, kalau saya mau dibunuh dengan pedang itu tidak akan mati. Kalau mau bunuh saya pakek ini sembari menunjukkan tusuk rambut tang diberi oleh Pangeran Cakraningrat yang dibawa dari Madura,” tuturnya.
Pesan terakhir menurut I Wayan dari Raden Ayu adalah, dia meminta apabila nanti mati dan jasasnya harum maka raden Ayu meminta untuk dikubur secara islam.
“Benar saja setelah dia shalat magrib lalu ditusuk pakek tusuk konde di dada kirinya, jasad beliau harum dan semua kaget,” imbuh Wayan.
Kisah mistis di makam Raden Ayu Siti Khotijah.
Ditempat yang sama wartawan mencoba mengulik sisi mistis yang berada di area makam tersebut. Jurnalis sempat mewawancarai salah seorang penjaga di makam tersebut namanya I Gusti Agung. Menurutnya dia sering mendengar suara aneh dari dalam makam ketika malam.
“Saya sering mendengar suara seperti orang dzikir dari dalam. Tapi ketika saya lihat didalam tidak ada orang. Kan disini tutupnya sampai jam 5 sore,” kaya I Gusti.
I Gusti Agung menambahkan, banyak pengunjung dari luar pulau yang sering datang kesini.
“Dari kedatangan mereka saya menyadari kalau makam Raden Ayu adalah keramat,” tambahnya.
Saat ditanya apakah dirinya tidak merasa takut ketika mendengar suara aneh dari dalam, I Gusti mengatakan tidak.
“Mungkin karena sudah terbiasa jadi saya merasa gak takut,” pungkasnya.
Sementara itu Ketua Persatuan Jurnalis Sampang (PJS) Faris Reza Malik mengatakan, dirinya sengaka mengajak anggotanya untuk berziarah ke Makam Raden Ayu Siti Khotijah. Hal tersebut menurut Faris sebagai bentuk penghormatan kepada istri raja atau pangeran dari pulau Madura.
“Biar teman-teman tau sejarahnya, kalau ada raja di Madura yang pernah menikah dengan orang Bali,” tutupnya.






