Salah satunya hal itu dilakukan dengan menggalang partisipasi masyarakat dalam beternak sapi sebagai upaya untuk keberlanjutan hidup.
Perlahan namun pasti, Sapi Sonok mulai dikenal oleh masyarakat luas. Bahkan, pada tahun 1985, fenomena ini mencapai puncaknya ketika seorang peneliti seni dari Kanada tertarik untuk datang ke Desa Dempo Barat dan mempelajari langsung sapi-sapi betina piaraan warga yang menjadi ikon Sapi Sonok.
Perjalanan Sapi Sonok tidak berhenti di tingkat lokal. Pada awal kemunculannya, Khairuddin dan beberapa pecinta sapi membawa pertunjukan Sapi Sonok hingga ke Kabupaten Pati dan Kota Semarang, Jawa Tengah.
Ini menjadi bukti bahwa keberhasilan sebuah inisiatif lokal bisa menginspirasi dan menarik perhatian dari berbagai kalangan, bahkan internasional.