PAMEKASAN, MaduraPost - Program Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) di Kabupaten Pamekasan, Jawa Timur, ternyata banyak menyasar kepada masyarakat kurang mampu di wilayah selatan.
Alasannya di wilayah utara sedikit, karena mayoritas rumah warga penduduk utara sudah mentereng dan layak huni, berkat jadi Tenaga Kerja Indonesia (TKI).
"Riyal-Ringgit itu banyak beredar di utara, sebab mereka banyak yang menjadi TKI di luar negeri, sehingga rumahnya sudah bagus dan layak huni," kata Kepala Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (DPKP) Pemkab Pamekasan, Muharram.
Muharram mengungkapkan, usulan penerima program RTLH 2024 sudah masuk 10 ribu. Sementara pemerintah masih menangani 2 ribu, 8 ribu sisanya belum ditangani, seiring banyaknya usulan yang sangat meningkat.
Padahal penerima program RTLH di tahun 2023 dan 2022 sangat jauh signifikan. Di tahun 2023, hanya 230 penerima. Sementara di tahun 2022, 1 ribu lebih penerima.