“Kita tidak hanya fokus pada bantuan sosial, tapi juga penguatan UMKM, peningkatan akses layanan dasar, dan pembangunan infrastruktur. Itu semua berdampak langsung terhadap penurunan angka kemiskinan,” jelas Arif.
Angka Prevalensi Stunting di Kabupaten Sumenep juga terus menurun hingga mencapai 11,2 % pada Tahun 2024, turun drastis dari tahun sebelumnya yang mencapai 16,7%.
Arif menyampaikan, bahwa capaian ini adalah hasil dari kolaborasi lintas sektor dan penurunan angka stunting di Kabupaten Sumenep memang menjadi salah satu fokus utama Pemerintah Daerah dan pada Tahun 2024 Kabupaten Sumenep menerima penghargaan dari BKKBN karena Kabupaten Sumenep dinilai sukses mengoptimalkan pemanfaatan Dana Alokasi Khusus (DAK) dalam mendukung program percepatan penurunan stunting.
“Stunting adalah indikator penting bagi kualitas generasi masa depan. Fokus kami tidak hanya pada gizi, tetapi juga pada edukasi keluarga dan layanan kesehatan terpadu,” tegas Arif.
Capaian Sumenep bahkan lebih baik dibandingkan rata-rata nasional dan Provinsi Jawa Timur.