“Kita ingin tradisi ini tidak hanya dikenang, tapi terus dipraktikkan dan diperkenalkan di tempat-tempat yang menjadi ikon wisata daerah. Dengan begitu, nilai budaya tetap hidup dan sektor pariwisata ikut bergerak,” jelasnya.

Acara inti festival menampilkan Topak Lober, sebuah prosesi unik berupa iring-iringan ketupat dalam bentuk gunungan yang diiringi doa-doa dari para tokoh agama. Dalam prosesi ini, Bupati Fauzi dan istrinya, Nia Kurnia Fauzi, memimpin penarikan simbol janur kuning, ikon penting dalam perayaan tersebut.

Antusiasme pengunjung memuncak saat sesi berebut ketupat dimulai. Tawa dan keceriaan mengisi suasana, menciptakan nuansa kebersamaan yang hangat dan penuh makna.

Festival ini juga dimanfaatkan untuk kegiatan sosial dan pemberdayaan ekonomi. Pemkab memberikan bantuan kepada anak-anak yatim dan menyediakan ruang bagi pelaku usaha mikro untuk memamerkan produk khas Sumenep.