"Kalau untuk daerah Kota mungkin cepat prosesnya karena tidak susah jaringan. Tapi kalau untuk kepulauan ya harus cari jaringan, gimanapun caranya," tambahnya.
Dia mencontohkan, seperti Pulau Masalembu yang sangat sulit mengakses jaringan. Terkadang, para guru atau murid harus naik perahu untuk mendapatkan jaringan stabil.
Data Disdik Sumenep menyebutkan, cover area jangkauan SD sebanyak 650 sekolah, sementara Sekolah Menengah Pertama (SMP) 220 sekolah atau lembaga.
"Kalau SMP itu titik-titiknya cenderung ada jaringan. Contohnya saja SMP Negeri pasti ada di pusat-pusat kota. Beda dengan SD yang cakupannya di desa, apalagi wilayah kepulauan. Tapi kalau SMP pasti cenderung menggunakan online, karena cover areanya lebih nyaman," kata dia menjelaskan.