SCROLL UNTUK MELANJUTKAN MEMBACA
DaerahHeadlineKesehatan

1.875 Kasus TBC di Sumenep, Lebih Bahaya Mana Dengan Corona ?

Avatar
×

1.875 Kasus TBC di Sumenep, Lebih Bahaya Mana Dengan Corona ?

Sebarkan artikel ini

SUMENEP, Madurapost.id – Selain pademi covid-19 di Indonesia terus menjamur, hal ini tak melupakan kasus terbesar penyebaran virus ganas lainnya. Seperti halnya Tuberculosis (TBC).

Pada tahun 2018 laku, secara kasus nasional TBC juga merupakan pandemi global paling mematikan di Indonesia, estimasi kematian mencapai 93.000 ribu jiwa.

SCROLL UNTUK MELANJUTKAN MEMBACA
SCROLL UNTUK MELANJUTKAN MEMBACA

Sedangkan, kasus TBC di Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur, diperkirakan terdapat 1.875 kasus pada tahun 2019. Hal ini tak lepas dari perhatian Pemerintah Kabupaten (Pemkab) untuk tetap memprioritaskan penyakit TBC pada kelas berbahaya.

“Persoalannya, berita nasional dan internasional mengalahkan itu semua. Dengan Alat Pelindung Diri (APD) masker ini tujuannya untuk memberantas TBC,” ungkap Bupati Sumenep, Busyro Karim, saat penyerahan APD masker bedah dan masker N95 oleh Stop TB Partnership Indonesia (STPI), Senin (29/06/2020).

Baca Juga :  Lawan Covid-19, Tim Media Center Diskominfo Sumenep Dapat Bantuan APD Dari BAZNAS

Sebelumnya, STPI bersama PT. Garam (Persero) dan Baznas serahakan 8.300 pcs masker bedah dan 200 pcs masker N95 pada Dinas Kesehatan (Dinkes) Sumenep.

Hal itu dilakukan, sebab dari hasil monitoring STPI diketahui bahwa banyak APD atau masker bedah dan masker N95 yang seharusnya digunakan untuk pasien TBC malah digunakan untuk pasien covid-19.

Dari hasil temuan STPI, hingga saat ini di berbagai Puskesmas Sumenep termasuk rumah sakit, jatah masker khusus TBC masih tersedia.

“Masih ada, walaupun harus pesan lagi, karena memang perkembangannya sangat luar biasa. Tetap jalan, saya tahu sendiri,” kata dia.

Baca Juga :  TPM Sepulu Akan Menjadi Icon Destinasi Kabupaten Bangkalan

Sementara itu, Kepala Dinkes Sumenep, Agus Mulyono, menerangkan bahwa penularan kasus TBC hampir sama dengan covid-19.

Ditanya terkait banyaknya kasus TBC di Sumenep pada tahun 2019 lalu, dia menelaah jika memang sangat parah. Bahkan pasien suspect TBC juga terus bertambah.

“Itu kan yang suspect (Dicurigai), nanti akan ditindaklanjuti dengan yang positif. Sekitar 1000 lebih itu adalah mereka yang sudah diidentifikasi melalui aktif kesfainding (Banyak),” ujar Agus.

Penemuan kasus secara aktif oleh pengelola program di berbagai Puskesmas, lanjutnya, menjadi catatan penting bagaimana ganasnya TBC, meskipun masih banyak pembeda dari pada virus corona.

Baca Juga :  Cara Ampuh Dispertahortbun Sumenep Jaga Pola Bersih Masuk Kantor

“Karena TBC ini adalah penyakit kronis, tapi kalau covid-19 ini adalah penyakit yang akut, jadi beda,” terang dia.

Namun, Agus meyakini, tingkat penularannya lebih cepat covid-19, sebab dalam jangka waktu empat bulan saja 215 lebih negara sudah terinfeksi

“Maka cepat sekali penyeberannya. Sedangkan TBC itu di negara Eropa tidak ada. Karena kronis, maka pengobatannya itu pelan-pelan. Menurut standart-nya TBC itu pengobatannya enam bulan,” paparnya.

Tak menutup kemungkinan, baik TBC maupun virus corona, menurut Agus, sama bahayanya.

“Sama bahayanya, tapi lebih cepat covid-19,” tukasnya. (Mp/al/kk)

Baca berita lainya di Google News atau gabung grup WhatsApp sekarang juga!

Konten di bawah ini disajikan oleh advertnative. Redaksi Madura Post tidak terlibat dalam materi konten ini.