SUMENEP, MaduraPost – Kelangkaan solar bersubsidi di sejumlah wilayah pesisir Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur, kembali memunculkan polemik baru.
Bukan hanya soal distribusi yang tersendat, tetapi juga dugaan bahwa sebagian bahan bakar tersebut diselewengkan untuk kepentingan di luar aktivitas melaut.
Dari penelusuran di lapangan, terungkap dugaan bahwa sebagian jatah solar nelayan digunakan untuk mendukung aksi penolakan kegiatan survei seismik di perairan kepulauan Kangean.
Dugaan ini memantik keprihatinan Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Kabupaten Sumenep, yang menilai bahwa tindakan semacam itu justru memperburuk nasib nelayan sendiri.
Ketua HNSI Kabupaten Sumenep, M. Sahnan menegaska, bahwa solar bersubsidi adalah hak nelayan yang semestinya digunakan untuk mencari nafkah, bukan untuk membiayai kegiatan politik atau aksi demonstrasi di laut.
“Kalau benar ada solar subsidi yang dialihkan untuk aksi di laut, itu pelanggaran serius. Kami akan pertimbangkan mencabut rekomendasi subsidi bagi siapa pun yang terbukti menyalahgunakannya,” ujar Sahnan, Rabu (12/11).
Menurut Sahnan, pihaknya tidak menolak aspirasi masyarakat, namun menilai penggunaan fasilitas subsidi untuk kepentingan di luar produktivitas adalah bentuk penyimpangan yang harus segera diluruskan.
Ia menekankan pentingnya menjaga integritas nelayan sebagai pelaku ekonomi pesisir yang mengandalkan kerja keras di laut, bukan sebagai alat kepentingan pihak tertentu.
“Solar itu untuk mencari ikan, bukan bahan bakar untuk provokasi. Kalau disalahgunakan, yang rugi ya nelayan sendiri. Kami akan berkoordinasi dengan aparat agar distribusi subsidi ini benar-benar tepat sasaran,” tambahnya.
Dalam pandangannya, isu penolakan seismik di Kangean harus diletakkan dalam kerangka rasional dan tidak ditunggangi kepentingan politik atau provokasi.
Ia menilai eksplorasi migas adalah bagian dari upaya bangsa untuk mewujudkan kemandirian energi dan kesejahteraan masyarakat.
“Kalau dulu pemuda berjuang merebut kemerdekaan, maka sekarang perjuangan adalah bagaimana mengisi kemerdekaan lewat kontribusi nyata. Eksplorasi migas itu perjuangan kemakmuran, jangan sampai fitnah dan provokasi menghambat masa depan Kangean,” tegasnya.
Momen pasca Hari Sumpah Pemuda, kata Sahnan, seharusnya menjadi refleksi bersama bagi seluruh lapisan masyarakat untuk memperkuat semangat persatuan, bukan malah terpecah oleh isu yang belum tentu benar.
“Pemuda dan nelayan sejati itu berpikir luas, bukan mudah diadu domba. Kalau kita terpecah, yang diuntungkan bukan masyarakat, tapi mereka yang menunggangi,” ujarnya menutup.
Hingga berita ini ditulis, pihak yang disebut-sebut sebagai penggerak aksi penolakan seismik belum dapat dimintai tanggapan karena keterbatasan akses komunikasi di wilayah kepulauan.***






