SAMPANG, MaduraPost — Polemik proyek rabat beton retak di Desa Terosan, Kecamatan Banyuates, Kabupaten Sampang, kian melebar. Bukan semata soal mutu konstruksi yang dipertanyakan warga, tetapi juga dugaan pernyataan tidak konsisten dari Kepala Desa Terosan, BG Slamet Riyadi, terkait sumber anggaran pembangunan jalan tersebut.
Jalan rabat beton yang disebut-sebut baru rampung beberapa bulan lalu itu kini mengalami retakan memanjang dan melebar di sejumlah titik. Retakan tampak membelah bagian tengah hingga sisi samping badan jalan. Kondisi ini memunculkan pertanyaan tentang kualitas campuran beton, ketebalan pengecoran, hingga proses pemadatan tanah dasar.
Sejumlah warga menyatakan proyek tersebut belum genap enam bulan selesai dikerjakan. Mereka menilai kerusakan dini itu tidak lazim untuk proyek yang menggunakan anggaran negara.
“Kalau melihat kondisinya, ini belum lama selesai. Tapi retaknya sudah melebar. Kami menduga ada yang tidak sesuai spesifikasi,” ujar seorang warga yang meminta namanya dirahasiakan.
Sorotan kemudian mengarah kepada Kepala Desa Terosan, BG Slamet Riyadi. Dalam pemberitaan salah satu media daring, ia menyatakan bahwa rabat beton yang rusak bukan berasal dari Dana Desa (DD) Tahun Anggaran 2025, melainkan hasil swadaya masyarakat.
“Proyek jalan rabat beton tersebut merupakan hasil swadaya masyarakat yang dibangun secara gotong royong oleh warga setempat,” ujar Slamet Riyadi seperti dikutip media tersebut.
Namun klaim itu dibantah warga. Mereka menyebut batas antara proyek swadaya dan proyek yang dibiayai Dana Desa dapat dikenali secara jelas, baik dari papan informasi kegiatan maupun waktu pelaksanaan.
“Saya tahu mana jalan swadaya dan mana yang dari Dana Desa. Jangan sampai publik dibingungkan,” kata sumber lain kepada MaduraPost.
Sejumlah warga bahkan menduga terdapat upaya pengalihan informasi untuk menghindari sorotan atas kualitas pekerjaan. Jika benar proyek tersebut bersumber dari Dana Desa, maka seluruh proses perencanaan, pelaksanaan, hingga pengawasan seharusnya mengacu pada Rencana Anggaran Biaya (RAB) serta spesifikasi teknis yang telah ditetapkan.
Secara teknis, retakan dini pada rabat beton umumnya dipicu oleh mutu campuran yang tidak memenuhi standar, ketebalan pengecoran yang kurang dari perencanaan, atau kondisi tanah dasar yang tidak dipadatkan secara optimal.
Faktor curing (perawatan beton) yang tidak maksimal juga dapat mempercepat munculnya retak susut. Namun, untuk memastikan penyebab pasti, diperlukan audit teknis independen.
Upaya konfirmasi lanjutan kepada Kepala Desa Terosan melalui sambungan telepon dan pesan singkat hingga berita ini diturunkan belum mendapat respons. Pemerintah Desa Terosan juga belum memberikan penjelasan resmi terkait perbedaan keterangan mengenai sumber anggaran tersebut.
Di tengah polemik ini, warga mendesak adanya keterbukaan informasi publik. Mereka meminta aparat pengawas internal pemerintah daerah maupun inspektorat melakukan pemeriksaan menyeluruh untuk memastikan apakah proyek tersebut sesuai dengan dokumen perencanaan dan spesifikasi teknis.
Jika pernyataan mengenai sumber anggaran terbukti tidak sesuai fakta, persoalan ini tak lagi sekadar soal retakan beton, melainkan menyangkut akuntabilitas pengelolaan dana publik dan integritas pejabat desa.
MaduraPost akan terus menelusuri dokumen anggaran dan meminta klarifikasi resmi dari pihak terkait guna menjaga prinsip keberimbangan dan akurasi informasi.





