Scroll untuk baca artikel
Daerah

APBD 2025 Sumenep Dipersoalkan, Perawatan PJU Gerbang Selamat Datang Belum Jelas

×

APBD 2025 Sumenep Dipersoalkan, Perawatan PJU Gerbang Selamat Datang Belum Jelas

Sebarkan artikel ini
MINIM PENERANGAN. Suasana gelap di ruas jalan kawasan pintu masuk “Selamat Datang” Sumenep saat malam hari, dengan minim penerangan yang dikeluhkan warga karena dinilai rawan bagi pengendara. (M.Hendra.E/MaduraPost)
MINIM PENERANGAN. Suasana gelap di ruas jalan kawasan pintu masuk “Selamat Datang” Sumenep saat malam hari, dengan minim penerangan yang dikeluhkan warga karena dinilai rawan bagi pengendara. (M.Hendra.E/MaduraPost)

SUMENEP, MaduraPost – Kondisi kurang sedap dipandang terlihat di kawasan pintu masuk atau gerbang “Selamat Datang” Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur.

Berlokasi di Desa Sendang, Kecamatan Pragaan, yang selama ini menjadi penanda pintu masuk sekaligus ikon kebanggaan Kota Sumenep malah mendapat kritik dari warga setempat.

SCROLL UNTUK MELANJUTKAN MEMBACA
SCROLL UNTUK MELANJUTKAN MEMBACA

Dalam beberapa hari terakhir, penerangan di area tersebut dilaporkan padam total, membuat suasana di sekitar lokasi berubah gelap saat malam hari.

Padamnya lampu di kawasan itu memicu keluhan warga dan pengguna jalan. Selain mengurangi keindahan, kondisi tersebut juga dinilai berisiko bagi pengendara, terutama ketika arus kendaraan meningkat.

“Ini kan pintu masuk kota, harusnya jadi perhatian. Kalau gelap seperti ini tentu rawan kecelakaan,” ujar Rahman, seorang warga yang melintas di kawasan itu, pada Sabtu (28/2) malam.

Baca Juga :  Informasi dari DPW, Rekomendasi PKB Jatuh ke Fattah Jasin di Pilkada Sumenep 2020

Selama ini, gerbang “Selamat Datang” dikenal sebagai wajah awal kota dan kerap menjadi latar foto bagi masyarakat maupun tamu dari luar daerah, apalagi di lokasi tersebut juga terdapat monumen Tugu Keris.

Namun, ketika malam tiba, pesona kawasan tersebut nyaris tak terlihat akibat minimnya pencahayaan. Sebagian warga berharap Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sumenep di bawah kepemimpinan Bupati Achmad Fauzi Wongsojudo segera turun tangan.

Mereka meminta instansi teknis melakukan pengecekan menyeluruh untuk memastikan apakah gangguan disebabkan kerusakan teknis, masalah jaringan listrik, atau faktor lain.

Sampai berita ini diturunkan, belum ada penjelasan resmi terkait penyebab pasti padamnya lampu di area tersebut maupun target waktu penyelesaiannya.

Baca Juga :  Air Mata Bahagia Janda Lansia di Rubaru Setelah Dapat Rumah Baru dari Baznas Sumenep

Kurangnya penerangan di kawasan tersebut dinilai mencerminkan lemahnya respons terhadap fasilitas umum yang semestinya terawat.

Berdasarkan penelusuran MaduraPost, Dinas Perumahan Rakyat, Kawasan Permukiman dan Perhubungan (Disperkimhub) Sumenep tercatat mengelola anggaran perawatan lampu penerangan jalan umum (PJU) sebesar Rp 613.264.000.

Dana yang bersumber dari APBD Sumenep 2025 itu diperuntukkan bagi pengadaan lampu LED, bahan baku bohlam, serta kebutuhan pemeliharaan PJU.

Mantan Kepala Disperkimhub Sumenep sebelumnya, Yayak Nurwahyudi, menyatakan bahwa tidak ada lampu PJU yang mengalami gangguan. Menurutnya, yang padam adalah lampu taman yang berjajar di sepanjang jalan.

”Kalau lampu taman, kami akui memang sudah lama mati. Tapi, kalau lampu PJU di sana tidak ada masalah,” terangnya.

Baca Juga :  Merangkai Kreativitas, Lomba Sketsa Guru TK dan PAUD di Malaka Event 2025

Yayak juga mengakui masih banyak lampu PJU di wilayah Sumenep yang membutuhkan perbaikan. Namun, proses perawatan dilakukan bertahap karena keterbatasan personel.

”Hanya ada 12 orang, itu pun dibagi empat,” paparnya.

Ia meminta masyarakat bersabar karena pihaknya tetap menindaklanjuti setiap laporan yang masuk, termasuk melalui layanan darurat 112.

”Yang melapor melalui call canter 112 itu memang banyak, dan pasti kami perbaiki secara bertahap,” tandasnya.

Di tengah penjelasan tersebut, warga berharap perbaikan di kawasan Tugu Keris dan gerbang “Selamat Datang” dapat diprioritaskan.

Sebab, bagi banyak orang, terang atau gelapnya gerbang kota adalah simbol sederhana dari seberapa serius pemerintah merawat wajah daerahnya sendiri.***