Angka Kemiskinan Tinggi, Pagar Kantor Pemkab Sumenep Ringsep Saat Aksi Demontrasi Ratusan Mahasiswa

  • Bagikan
AKSI DEMONSTRASI : Suasana ratusan mahasiswa yang melakukan orasi bergilir di depan Kantor Pemkab Sumenep hingga pertujukan teaterikaldan baca puisi. (M. Hendra. E)

SUMENEP, MaduraPost – Kantor Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sumenep, Madura, Jawa Timur, di demo ratusan mahasiswa yang tergabung dalam Aliansi Badan Eksekutif Mahasiswa Sumenep (BEMSU). Rabu, 3 November 2021 pagi.

Ratusan mahasiswa ini menggelar aksi demontrasi dengan menyuarakan beberapa aspirasi. Salah satunya mereka menuntut agar Pemkab Sumenep segera menghentikan alih fungsi lahan yang sedang marak di Kota Keris tersebut.

Tak hanya itu, massa aksi juga meminta agar Pemkab Sumenep menindak tegas tambak udang nakal tanpa terkecuali, serta memberikan pembinaan terhadap masyarakat.

Disamping itu, mahasiswa juga menyampaikan aspirasi rakyat tentang angka kemiskinan yang semakin tinggi di Bumi Sumekar ini. Kemudian soal produktifitas pertanian dan tindakan represif terhadap mahasiswa.

BACA JUGA :  Jatim Waspada Covid-19, 22 Pasien Telah Dinyatakan Sembuh

Pada pewarta, Koordinator BEMSU, Nur Hayat menjelaskan, tentang tuntutannya terkait alih fungsi lahan saat ini dinilai masih menjadi problem bagi masyarakat.

Menurutnya, hingga saat ini masih belum ada tindakan jelas dari pemerintah setempat untuk menertibkan dan memberikan perlindungan terhadap masyarakat lokal.

Hal itu yang mengakibatkan peralihan status masyarakat, yang awalnya mayoritas mata pencahariannya menjadi petani dan nelayan, kini malah beralih profesi menjadi buruh tambak.

“Hal itu merupakan pemandangan pahit yang hari ini kita saksikan bersama. dari pemilik lahan hingga menjadi buruh di atas tanah nenek moyang sendiri,” ungkapnya pada sejumlah media, Rabu (3/11).

Mahasiswa juga menilai, secara pandangan ekonomi jangka panjang menjadi catatan buruk bahwa 10 hingga 15 tahun mendatang masyarakat Sumenep menjadi asing di bumi sendiri. Hal itu disebabkan oleh aktivitas ekstraktif yang berorientasi pada kekayaan segelintir orang.

BACA JUGA :  Merasa Dibodohi, Warga Kecam PDAM Terkait CSR Sumber Pocong

Sesuai data yang dibawa mahasiswa, masifnya industrialisasi tambak terlihat tidak memberikan dampak implisit bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Dimana, hal itu bisa dijadikan indikasi bahwa kehadiran investasi dan pembangunan di Kabupaten Sumenep tidak memiliki keberpihakan kepada rakyat secara umum.

“Itu seakan hanya menjadi lahan basah bagi segelintir elit pengusaha dan penguasa, tanpa perlu tahu terhadap dampak yang akan menyebabkan masyarakat tertindas,” tegasnya.

Aksi demonstrasi mahasiswa sayangnya tidak ditemui langsung oleh Bupati Sumenep, Achmad Fauzi. Sebab Bupati Fauzi dikabarkan sedang berada di luar Kota. Namun, mewakili ketidakhadiran Bupati Fauzi dihadapan mahasiswa, Asisten I Bagian Perencanaan dan Pembangunan Pemkab Sumenep, Masuni, turun langsung di tengah massa aksi.

BACA JUGA :  Jalan Poros Desa Rusak Parah, Warga Desa Dulang Ingin Pemkab Sampang Buka Mata

Sebelum Masuni menghadiri massa aksi, sempat suasana tegang mahasiswa terjadi. Yakni, mahasiswa mendorong pagar Kantor Pemkab Sumenep hingga sedikit ringsep. Hal itu dilakukan sebab Bupati Fauzi tak kunjung menemui mahasiswa. Aksi mahasiswa juga dikawal ketat oleh aparat kepolisian dengan memasang pagar berduri.

Pantauan di lapangan, Masuni menandatangani nota kesepemahaman tuntunan yang dibuat oleh mahasiswa yang berisi beberapa tuntutan, salah satunya tentang alih fungsi lahan yang sedang marak di Kota Keris tersebut.

“Baik, saya tanda tangani, merdeka,” tukasnya dengan memegang mikrofon mahasiswa.

  • Bagikan