BANGKALAN, MaduraPost – Universitas Trunojoyo Madura (UTM) kembali menunjukkan taringnya sebagai kampus berbasis riset dengan mengukuhkan empat guru besar baru. Pengukuhan ini tak sekadar seremoni akademik, tetapi diarahkan untuk memperkuat transformasi pembangunan daerah, khususnya sektor pertanian lahan kering yang menjadi wajah utama Pulau Madura.
Rektor UTM, Safi’, menegaskan bahwa gelar profesor bukan garis finis, melainkan titik awal tanggung jawab yang lebih besar.
“Dengan gelar ini, kinerja harus melonjak. Riset tidak boleh berhenti di kampus, tetapi harus memberi dampak nyata bagi masyarakat,” tegasnya. Rabu, (22/4/2026).
Ia juga mendorong kolaborasi lintas sektor, terutama dengan pemerintah daerah dan industri, agar hasil riset tidak berhenti sebagai prototipe, tetapi benar-benar dihilirisasikan menjadi kebijakan dan program nyata.
Pertanian Lahan Kering Jadi Kunci Masa Depan
Sorotan utama datang dari Elys Fauziyah yang mengangkat tema transformasi pertanian lahan kering sebagai kunci ketahanan pangan dan kesejahteraan petani.
Menurutnya, secara nasional lahan kering mencapai sekitar 63,4 juta hektare—jauh melampaui lahan sawah yang hanya sekitar 7,3 juta hektare. Artinya, masa depan pangan Indonesia tak bisa lagi bergantung pada sawah irigasi semata.
Kondisi ini sangat relevan di Madura, yang didominasi lahan kering dengan curah hujan terbatas, tanah berbasis kapur, dan kandungan organik rendah. Bahkan, lebih dari 70 persen lahannya tergolong marginal.
Meski begitu, sektor pertanian tetap menjadi tulang punggung ekonomi masyarakat. Komoditas utama seperti jagung mendominasi, disusul padi, kedelai, kacang tanah, hingga berbagai tanaman palawija.
Produktivitas Masih Tertinggal
Potensi besar tersebut belum diikuti kinerja produksi optimal. Produktivitas jagung di Madura tercatat hanya sekitar 2,11 ton per hektare—tertinggal jauh dari rata-rata Jawa Timur yang sudah melampaui 5 ton per hektare.
Kondisi serupa juga terjadi pada komoditas lain, dengan kesenjangan produktivitas mencapai 10 hingga 50 persen.
“Masalahnya bukan hanya faktor alam, tetapi juga keterbatasan teknologi, rendahnya adopsi inovasi, serta faktor sosial-ekonomi petani,” jelas Elys.
Teknologi Jadi Game Changer
Meski demikian, peluang peningkatan produktivitas masih terbuka lebar. Penggunaan benih unggul dan teknologi terbukti mampu mendongkrak hasil secara signifikan.
Pada jagung, misalnya, benih hibrida lokal mampu meningkatkan produktivitas hingga 4,43 ton per hektare. Bahkan, dengan intervensi teknologi optimal, hasil panen berpotensi mencapai 6–8 ton per hektare.
Ini menegaskan bahwa transformasi pertanian lahan kering sangat bergantung pada inovasi teknologi, efisiensi input, dan peningkatan manajemen usahatani.
Petani Madura Tangguh dan Adaptif
Di tengah keterbatasan, petani Madura dinilai memiliki daya adaptasi tinggi. Mereka mampu menyesuaikan pola tanam, memilih komoditas tahan kekeringan, serta memanfaatkan kearifan lokal.
Praktik seperti diversifikasi tanaman, integrasi ternak, dan penggunaan pupuk organik menjadi bukti bahwa pertanian berkelanjutan sudah mulai tumbuh dari bawah.
Namun, upaya ini masih membutuhkan dukungan sistem yang lebih kuat—mulai dari penyuluhan, akses teknologi, hingga penguatan kelembagaan petani seperti kelompok tani dan koperasi.
Daya Saing Ada, Efisiensi Perlu Digenjot
Selain produktivitas, efisiensi usahatani juga menjadi pekerjaan rumah. Banyak petani belum mampu mengoptimalkan penggunaan input produksi secara maksimal.
Meski begitu, komoditas seperti jagung, padi, dan bawang merah dinilai tetap memiliki daya saing kuat, baik secara kompetitif maupun komparatif.
Tiga Profesor Lain Perkuat Riset Multisektor
Selain pertanian, tiga guru besar lain turut memperkaya ekosistem riset UTM:
- Eny Suastuti menyoroti celah korupsi dalam perizinan pertambangan
- Insafitri mengusung konsep “Samudra Harmoni” untuk menjaga ekosistem laut
- Mohamad Imron Mustajib mendorong penguatan industri perkapalan di Bangkalan
Riset Harus Berdampak Nyata
Rektor kembali menegaskan bahwa seluruh riset harus bermuara pada dampak nyata bagi masyarakat.
“Tantangannya bukan hanya menghasilkan riset, tetapi bagaimana itu diimplementasikan melalui kebijakan dan dukungan industri,” pungkasnya.






