Scroll untuk baca artikel
Daerah

Konflik Israel-AS vs Iran Memanas, DPRD Sumenep Ingatkan Dampak Lonjakan Harga Minyak

×

Konflik Israel-AS vs Iran Memanas, DPRD Sumenep Ingatkan Dampak Lonjakan Harga Minyak

Sebarkan artikel ini
PROFIL. Anggota Komisi I DPRD Kabupaten Sumenep, Hairul Anwar, saat berada di dikantornya. (Istimewa for MaduraPost)
PROFIL. Anggota Komisi I DPRD Kabupaten Sumenep, Hairul Anwar, saat berada di dikantornya. (Istimewa for MaduraPost)

SUMENEP, MaduraPost – Konflik bersenjata yang melibatkan Israel dan Amerika Serikat melawan Iran di kawasan Timur Tengah hingga kini masih berlangsung intens.

Situasi perang tersebut belum menunjukkan tanda-tanda mereda maupun mengarah pada kesepakatan gencatan senjata dalam waktu dekat.

SCROLL UNTUK MELANJUTKAN MEMBACA
SCROLL UNTUK MELANJUTKAN MEMBACA

Memanasnya konflik di kawasan strategis tersebut diperkirakan membawa konsekuensi besar terhadap perekonomian global, khususnya sektor energi.

Salah satu dampak yang paling dikhawatirkan adalah melonjaknya harga minyak mentah dunia. Kekhawatiran ini semakin besar setelah Selat Hormuz jalur pelayaran vital bagi distribusi minyak dunia dilaporkan ditutup, sehingga kapal-kapal tanker pengangkut minyak tidak dapat melintas di kawasan tersebut.

Anggota Komisi I DPRD Kabupaten Sumenep, Hairul Anwar, menilai kondisi tersebut berpotensi menyebabkan lonjakan harga minyak secara signifikan di pasar internasional. Menurutnya, hampir sepertiga pasokan minyak dunia berasal dari kawasan Teluk Persia.

“Harga minyak dunia bisa naik secara signifikan. Hampir 30 persen pasokan minyak dunia berasal dari Teluk Persia. Ketika kawasan itu tertutup akibat dampak perang, maka Indonesia berpotensi mengalami kekurangan pasokan minyak,” kata Hairul, Sabtu (7/3).

Ia menjelaskan, Indonesia merupakan negara neto importir minyak atau pengimpor bersih. Dengan kondisi tersebut, setiap gangguan distribusi minyak global akan langsung memengaruhi ketersediaan pasokan di dalam negeri.

“Kalau Teluk Persia ditutup akan kekurangan minyak. Terutama kita yang negara neto importir (pengimpor bersih),” ujarnya.

Hairul juga menilai pemerintah akan menghadapi dilema besar apabila harga minyak dunia benar-benar meningkat.

Jika pemerintah memilih untuk tidak menaikkan harga bahan bakar dalam negeri, maka beban subsidi energi dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) akan semakin besar.

Menurutnya, kondisi tersebut dapat berdampak pada kesehatan fiskal negara karena pemerintah harus menanggung subsidi yang jauh lebih tinggi dari sebelumnya.

“Kalau membebani APBN, maka APBN kita tidak sehat lagi. Karena akan menanggung beban subsidi yang semakin tinggi,” jelasnya.

Politikus Partai Amanat Nasional (PAN) itu juga mengingatkan bahwa kenaikan harga minyak tidak hanya berdampak pada sektor energi, tetapi juga berpotensi memperburuk kondisi sosial ekonomi masyarakat. Salah satu dampaknya adalah meningkatnya angka kemiskinan.

Ia menjelaskan, ketika harga energi meningkat, biaya kebutuhan hidup masyarakat ikut terdorong naik. Sementara itu, pendapatan masyarakat tidak selalu bertambah seiring kenaikan biaya hidup.

“Dengan harga konsumsi energi yang semakin besar, tingkat pendapatan yang tetap dan pengeluaran semakin banyak. Sehingga angka kemiskinan akan semakin banyak, terutama di Kabupaten Sumenep ini,” tandasnya.***