OPINI, MaduraPost – Di tengah berbagai program peningkatan mutu pendidikan, persoalan literasi dasar di wilayah kepulauan masih menjadi kenyataan yang patut kita renungkan bersama.
Berdasarkan temuan lapangan, terdapat empat sekolah dasar di Kepulauan Kangean yang hingga kini masih memiliki siswa belum mampu membaca dengan lancar. Sebagian siswa bahkan masih kesulitan mengenali huruf dan menyusun suku kata sederhana.
Fakta ini bukan untuk menyalahkan sekolah, guru, atau pihak tertentu, melainkan sebagai cermin bahwa persoalan literasi dasar masih membutuhkan perhatian dan kerja bersama.
Bagi anak sekolah dasar, kemampuan membaca bukan sekadar tuntutan mata pelajaran Bahasa Indonesia, melainkan kunci untuk memahami seluruh proses pembelajaran.
Anak yang belum lancar membaca akan kesulitan mengikuti pelajaran, memahami instruksi guru, dan mengerjakan tugas. Di kelas, mereka cenderung pasif, memilih diam, dan kurang percaya diri.
Jika kondisi ini berlangsung lama, dampaknya tidak hanya pada prestasi belajar, tetapi juga pada psikologis anak, seperti munculnya rasa rendah diri, enggan berinteraksi, bahkan tidak bersemangat datang ke sekolah.
Beberapa faktor saling memengaruhi kondisi tersebut. Pertama, pembelajaran membaca di sekolah dasar masih banyak dilakukan dengan cara-cara konvensional, seperti mengeja dan menghafal, tanpa dikaitkan dengan kehidupan nyata anak.
Pendekatan ini sering terasa berat bagi anak-anak Kangean yang tumbuh dalam budaya lisan dan lingkungan alam yang khas. Kedua, dukungan orang tua di rumah masih perlu ditingkatkan.
Kebiasaan membaca tidak cukup dibangun di sekolah saja, tetapi membutuhkan pendampingan dan perhatian di lingkungan keluarga. Ketiga, penggunaan gawai yang tidak terkontrol turut memengaruhi minat belajar anak.
Anak-anak kini lebih akrab dengan layar dibandingkan buku, sehingga daya fokus menurun dan membaca kerap dianggap membosankan.
Berangkat dari kondisi tersebut, perlu ditegaskan pemahaman bersama bahwa setiap siswa sekolah dasar seharusnya sudah mampu membaca. Ketika kenyataan di lapangan belum sesuai harapan, inovasi pembelajaran menjadi sebuah keharusan.
Guru tidak cukup hanya menjalankan kurikulum, tetapi juga perlu menghadirkan pembelajaran yang dekat dengan dunia anak.
Salah satu pendekatan yang relevan untuk wilayah seperti Kangean adalah pembelajaran literasi kontekstual berbasis lokal, yakni pembelajaran membaca yang berangkat dari pengalaman hidup, lingkungan, dan budaya sekitar siswa.
Dalam praktiknya, guru mengajak siswa mengenal huruf dan membaca melalui hal-hal yang mereka lihat dan alami setiap hari, seperti lingkungan alam, aktivitas orang tua, dan kebiasaan masyarakat setempat.
Anak dikenalkan kosakata dari benda dan kegiatan yang akrab, membaca kalimat sederhana berbasis pengalaman lokal secara perlahan dan berulang, lalu berlatih membaca melalui kegiatan yang menyenangkan dengan pendampingan yang sabar dan berkelanjutan.
Pendekatan ini membantu anak belajar membaca secara lebih bermakna dan tidak menekan. Anak menjadi lebih berani mencoba, tumbuh rasa percaya diri, dan mulai menikmati proses belajar.
Sebaliknya, jika persoalan membaca terus diabaikan, ditambah penggunaan gawai yang tidak terkontrol, anak berisiko mengalami ketertinggalan belajar dan tekanan psikologis yang berdampak jangka panjang.
Karena itu, persoalan literasi dasar tidak bisa dibebankan kepada guru saja. Guru, orang tua, pemangku kebijakan, dan masyarakat perlu membangun kesadaran bersama bahwa keberhasilan literasi adalah tanggung jawab kolektif.
Bukan untuk saling menyalahkan, melainkan untuk saling mendukung dan memperbaiki keadaan. Kesadaran ini penting agar setiap anak mendapatkan hak dasarnya untuk belajar membaca dengan baik.
Bagi guru dan orang tua yang ingin mempelajari lebih lanjut penerapan Model Literasi Kontekstual Berbasis Lokal (LKBL), penulis telah menyusun panduan dan contoh praktik pembelajaran yang dapat diakses secara terbuka melalui.
Materi tersebut diharapkan dapat menjadi rujukan praktis dalam mendampingi anak belajar membaca sesuai dengan kondisi dan budaya setempat.
Sebagai penutup, tulisan ini mengajak kita semua untuk melihat persoalan literasi anak secara lebih jernih dan manusiawi. Kelancaran membaca tidak akan tumbuh jika hanya dibebankan kepada sekolah.
Dibutuhkan peran guru yang terus berinovasi, dukungan kebijakan yang berpihak pada kebutuhan nyata siswa, serta keterlibatan orang tua dan masyarakat dalam menciptakan lingkungan belajar yang sehat.
Dengan pembelajaran literasi yang dekat dengan kehidupan anak, harapannya anak-anak Kangean dapat tumbuh percaya diri, mencintai belajar, dan meraih masa depan yang lebih baik melalui pendidikan.***
Oleh : Badrul Qamar
Guru | Mahasiswa Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Malang






