Scroll untuk baca artikel
Nasional

Anak Indonesia di Persimpangan Digital dan Krisis Iklim

Avatar
94
×

Anak Indonesia di Persimpangan Digital dan Krisis Iklim

Sebarkan artikel ini
PAMFLET. Sejumlah anak berpose dalam kegiatan Save the Children Indonesia pada diskusi media yang membahas refleksi pemenuhan hak anak 2025 dan agenda prioritas perlindungan anak di tahun 2026. (Istimewa for MaduraPost)
PAMFLET. Sejumlah anak berpose dalam kegiatan Save the Children Indonesia pada diskusi media yang membahas refleksi pemenuhan hak anak 2025 dan agenda prioritas perlindungan anak di tahun 2026. (Istimewa for MaduraPost)

SUMENEP, MaduraPost – Transformasi digital memberi peluang luas bagi anak-anak Indonesia untuk mengekspresikan diri dan belajar hal baru.

Namun, di balik kemudahan tersebut, muncul ancaman yang tak ringan, terutama terhadap kesehatan mental dan aspek perlindungan anak.

SCROLL UNTUK MELANJUTKAN MEMBACA
SCROLL UNTUK MELANJUTKAN MEMBACA

Bersamaan dengan itu, krisis iklim yang semakin terasa turut memengaruhi pemenuhan hak-hak dasar anak, mulai dari akses pangan, pendidikan, hingga rasa aman dalam kehidupan sehari-hari.

Gambaran tersebut diungkapkan Save the Children Indonesia dalam diskusi media awal tahun 2026. Organisasi kemanusiaan ini menilai bahwa anak-anak Indonesia saat ini berada di tengah dua tantangan besar sekaligus meningkatnya risiko di ruang digital serta dampak langsung perubahan iklim.

Merujuk pada Studi Save the Children Indonesia 2025 tentang Penguatan Perlindungan Digital dan Kesejahteraan Anak, hampir empat dari sepuluh anak usia sekolah menengah pertama tercatat menghabiskan waktu antara tiga hingga enam jam per hari untuk berinteraksi dengan layar gawai.

Aktivitas ini paling padat terjadi pada rentang waktu sore hingga malam, khususnya pukul 18.00 sampai 21.00.

Baca Juga :  Polsek Robatal Ikuti Perintah Kapolri Sukseskan Vaksinasi Massal di Sampang

Studi tersebut juga menemukan bahwa durasi penggunaan gawai pada anak perempuan cenderung lebih panjang dibandingkan anak laki-laki.

Data ini memperlihatkan bahwa ruang digital telah menjadi bagian utama dari kehidupan anak. Bahkan, pembatasan penggunaan ponsel di sekolah tidak sepenuhnya efektif, karena sebagian anak tetap berupaya mengakses perangkat digital selama jam belajar.

Di sisi lain, peningkatan pemahaman tentang dunia digital ternyata tidak selalu berbanding lurus dengan kondisi psikologis anak.

Studi tersebut mencatat bahwa tingkat ketergantungan pada gawai yang tinggi justru berkaitan dengan memburuknya kesehatan mental.

Anak-anak pada umumnya sudah mengenali berbagai ancaman di dunia maya, seperti penipuan daring, peretasan akun, pencurian data pribadi, hingga perundungan siber.

Namun, pengetahuan itu belum disertai kemampuan yang memadai untuk menyikapi risiko secara aman dan sehat.

CEO Save the Children Indonesia, Dessy Kurwiany Ukar mengatakan, bahwa kesadaran semata belum cukup. Menurutnya, anak-anak kerap memahami potensi bahaya digital, tetapi masih kebingungan menentukan langkah ketika risiko itu benar-benar muncul.

Baca Juga :  Karena Sering Bolos Kerja, Dua Perwira Polisi di Bangkalan Dipecat

Ia menilai bahwa perlindungan anak di ruang digital membutuhkan penguasaan keterampilan digital yang menyeluruh, pendampingan aktif dari orang tua, serta dukungan kesehatan mental yang berkelanjutan.

Selain tekanan dari dunia digital, anak-anak Indonesia juga dihadapkan pada dampak serius krisis iklim.

Laporan Voluntary National Review (VNR) SDGs 2025 menunjukkan bahwa perubahan iklim telah menggerus berbagai hak anak, terutama melalui gangguan terhadap kesehatan, pola makan, serta stabilitas ekonomi keluarga.

Situasi ini turut meningkatkan kerentanan anak dalam konteks perlindungan, khususnya saat terjadi bencana.

Kajian yang dilakukan Save the Children bersama Humanitarian Forum Indonesia pada Desember 2025 mengungkapkan bahwa ketersediaan air bersih di sejumlah lokasi pengungsian masih belum merata.

Kondisi tersebut berisiko menimbulkan masalah kesehatan bagi anak dan keluarga. Di samping itu, sejumlah fasilitas layanan kesehatan mengalami kerusakan dan tidak dapat berfungsi optimal, sementara kebutuhan kelompok rentan seperti balita, ibu hamil, dan ibu menyusui belum sepenuhnya terpenuhi.

Baca Juga :  Kasus Kekerasan Seksual Terus Meningkat, NasDem Buka Posko Pengaduan di Seluruh Indonesia

Merespons berbagai tantangan tersebut, Save the Children Indonesia menekankan perlunya strategi perlindungan anak yang menyeluruh dan saling terhubung.

“Memasuki 2026, organisasi ini menetapkan sejumlah fokus utama, antara lain penguatan keamanan digital anak melalui peningkatan keterampilan, sistem perlindungan yang lebih kuat, serta keterlibatan aktif anak, guru, dan orang tua,” katanya, Rabu (14/1).

Upaya lain yang dianggap mendesak adalah memperluas literasi adaptasi terhadap krisis iklim dan mendorong aksi iklim yang relevan bagi anak, sekaligus memastikan hak-hak anak terpenuhi dalam masa pemulihan pascabencana, khususnya di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat.

Dessy menambahkan, bahwa menuju visi Indonesia Emas 2045, investasi paling strategis adalah menjamin anak-anak dapat tumbuh dalam lingkungan yang aman, sehat, dan mampu bertahan menghadapi krisis serta perubahan zaman.

Ia menilai, tanpa perlindungan yang kuat dan pemenuhan hak anak sejak sekarang, target besar tersebut akan sulit diwujudkan.***