Scroll untuk baca artikel
Daerah

Dinilai Tak Profesional, LBH PUSARA Minta Menkeu Pecat Kepala Bea Cukai Madura 

Avatar
44
×

Dinilai Tak Profesional, LBH PUSARA Minta Menkeu Pecat Kepala Bea Cukai Madura 

Sebarkan artikel ini
Kantor Bea dan Cukai Madura dan logo LBH PUSARA.

PAMEKASAN, MaduraPost – Lembaga Bantuan Hukum (LBH) PUSARA meminta Menteri Keuangan (Menkeu) melalui Dirjen Bea dan Cukai untuk memecat Kepala Kantor Bea dan Cukai Madura.

Tidak hanya itu, pihak LBH PUSARA juga meminta Kemenkeu melalui Dirjen Bea dan Cukai untuk memecat Kepala Seksi (Kasi) Penindakan beserta 3 Subseksi Penindakan Bea dan Cukai Madura.

SCROLL UNTUK MELANJUTKAN MEMBACA
SCROLL UNTUK MELANJUTKAN MEMBACA

Sebab, selain mempersulit ijin PR Rokok di Kabupaten Pamekasan, Kepala Kantor dan Timnya (Kasi Penindakan dan Subseksi Penindakan Bea dan Cukai Madura, red) itu juga diduga telah melakukan kesalahan prosedur serta kode etik kepabeanan dan cukai.

Baca Juga :  Soal Produksi Rokok Lokal, Tanggung Jawab Beacukai dan Pemkab Pamekasan Telah Punah

“Meskipun para PR Rokok sudah melaksanakan prosedur sesuai perundang-undangan berdasarkan UU No 39 tahun 2007 atas permohonan izin cukai, BC Madura malah sangat mempersulit ” kata Marsuto Alfianto selaku Ketua LBH PUSARA, Sabtu (4/12/2021).

Alfian (akrab disapa) juga mengatakan kalau mereka (Kepala Kantor Bea dan Cukai bersama timnya, red) telah melakukan penindakan tanpa prosedur perundang-undangan yang benar serta membabi buta ke bawah.

Baca Juga :  LBH Pusara VS Fraksi PPP DPRD Pamekasan, Siapa yang Hebat ?

“Pabrikan rokok hanya dijadikan sapi perah dan ATM oknum-oknum dari Bea dan Cukai tersebut,” ujarnya.

Untuk itu, jika menteri keuangan RI tidak dipecat tegas Alfian, pihaknya bersama masyarakat Pamekasan mengancam akan melakukan beberapa aksi.

“Baik aksi di atas meja yakni audiensi maupun aksi di luar meja yakni aksi demonstrasi besar-besaran,” ucapnya.

Baca Juga :  Akibat Bom Ikan, Satu Nelayan Tewas Dan Kapalnya Hancur di Sumenep

Ia menambahkan, bahwa adanya BC Madura bukan menjadi penyangga atas pabrikasi lokal, malah sebut dia, menjadi hambatan terhadap perkembangan pabrikasi Rokok lokal untuk berkembang.

“Sehingga kuat dugaan mereka bekerja terhadap pabrikan besar yang selama ini menjajah pamekasan dengan cara membeli tembakau murah di Pamekasan sementara mereka menjual rokok dengan harga tinggi di Madura khususnya di kabupaten Pamekasan” tegas alumnus PKPA Unair tersebut.