SUMENEP, MaduraPost – Rumah Sakit Umum Daerah dr. H. Moh. Anwar (RSUDMA) Sumenep, Madura, Jawa Timur, menegaskan bahwa pemberian asupan gizi bagi pasien rawat inap dilakukan secara personal, bukan dengan pola seragam.
Kebijakan tersebut diterapkan karena kondisi kesehatan setiap pasien memiliki perbedaan mendasar. Perbedaan kebutuhan nutrisi pasien mencakup berbagai aspek, mulai dari tingkat kesadaran, usia, berat badan, hingga jenis penyakit atau kondisi patologis yang dialami.
Kondisi pasien yang tidak sadar hingga pasien yang masih aktif berkomunikasi turut menjadi pertimbangan dalam penentuan menu makanan.
Direktur RSUDMA Sumenep, dr. Erliyati menuturkan, bahwa penetapan kebutuhan gizi sepenuhnya berada di tangan tenaga ahli gizi profesional. Penilaian tersebut dilakukan berdasarkan analisis medis serta hasil pemeriksaan klinis pasien.
“Ahli gizi akan menentukan apakah pasien membutuhkan gizi standar rumah sakit atau tambahan gizi khusus sesuai dengan kebutuhan tubuh pasien,” ujar dr. Erliyati, Senin (9/2).
Tak hanya menyediakan makanan, rumah sakit juga menjalankan program visit gizi. Dalam kunjungan tersebut, petugas gizi berinteraksi langsung dengan pasien maupun keluarga guna mengetahui preferensi makanan, yang selanjutnya diselaraskan dengan perhitungan kebutuhan kalori yang telah ditetapkan.
Ia menjelaskan, apabila dokter penanggung jawab pasien merekomendasikan pola diet tertentu, misalnya diet diabetes atau diet penyakit khusus lainnya—maka ahli gizi akan menyesuaikan asupan nutrisi berdasarkan berat badan serta kondisi klinis pasien.
“Seluruh proses pemberian gizi dilakukan sesuai standar pelayanan gizi rumah sakit dan mengacu pada kondisi patologis masing-masing pasien,” tegasnya.
RSUDMA Sumenep juga menekankan bahwa sistem pelayanan gizi di rumah sakit berbeda dengan program gizi di luar layanan medis, seperti penanganan balita kurang gizi atau program penurunan berat badan bagi penderita obesitas.
“Dengan mekanisme tersebut, asupan gizi yang diberikan kepada setiap pasien dipastikan tepat, terukur, dan sesuai dengan kondisi kesehatannya,” jelasnya.
Dalam aspek pengelolaan layanan, dr. Erliyati menyebutkan bahwa pelaksanaan pemberian gizi dikoordinasikan oleh kepala bidang terkait bersama unit operasional. Selama tidak ada gangguan pada sistem aplikasi, proses pelayanan berjalan normal.
“Jika ada komplain, misalnya dugaan penyalahgunaan atau permasalahan lainnya, maka akan dikonfirmasi kepada saya. Saya akan menjawab sesuai fakta, dan pihak terkait juga diberi kesempatan untuk memberikan penjelasan,” ungkapnya.
Ia menambahkan, bila ditemukan persoalan, penanganan akan dilakukan berdasarkan hasil evaluasi dan diagnosis, sejalan dengan prinsip layanan rumah sakit yang selalu menyesuaikan tindakan dengan penyakit pasien.
Setiap hari, layanan gizi rawat inap di RSUDMA Sumenep melayani ratusan pasien sesuai kebutuhan masing-masing. Menu yang disediakan meliputi makanan kering dan basah yang diolah khusus bagi pasien.
“Saat ini kami melayani sebanyak 233 tempat tidur, dengan anggaran penyediaan makanan pasien sekitar Rp2,3 miliar per tahun,” jelasnya.
Selain itu, kebutuhan makanan pasien juga mencakup susu, mengingat pasien yang dirawat berasal dari berbagai kelompok usia, termasuk bayi.
“Penyediaan makanan kami sesuaikan dengan kebutuhan pasien dari berbagai kelompok usia,” pungkasnya.***






