Scroll untuk baca artikel
DaerahSosial

Profil Haji Her, Sultan Madura yang Diduga Terlibat Politik Uang Gus Miftah di Pamekasan

Avatar
638
×

Profil Haji Her, Sultan Madura yang Diduga Terlibat Politik Uang Gus Miftah di Pamekasan

Sebarkan artikel ini
Sosok Khairul Umam atau Haji Her yang dikenal sebagai julukan Sultan Madura, kini jadi sorotan akibat fotonya dicatut banyak calon di Pilkada Pamekasan. (MaduraPost/dok)

PAMEKASAN, MaduraPost – Tokoh Pengusaha Tembakau Madura, Khairul Umam atau Haji Her kini jadi sorotan pasca dirinya diduga terlibat dalam politik uang yang dilakukan Miftah Maulana Habiburrahman atau Gus Miftah.

Sebab tokoh yang dijuluki Sultan Madura itu, ikut dipanggil Bawaslu Pamekasan untuk dimintai keterangan sebagai saksi. Ia diperiksa kurang lebih dua jam dengan melewati 20 pertanyaan Bawaslu.

SCROLL UNTUK MELANJUTKAN MEMBACA
SCROLL UNTUK MELANJUTKAN MEMBACA

Dalam rangkuman MaduraPost, Haji Her bukan orang baru di Pulau Madura. Sejak dirinya mendirikan dan mendeklarasikan Paguyuban Pelopor Petani dan Pedagang Tembakau Madura (P4TM) pada Agustus 2022, namanya kian naik daun.

Sikap kepeduliannya sering disorot karena tidak jarang Haji Her sering diketahui bagi-bagi uang di khalayak umum, seperti pasar, masjid, dan acara dalam momen-momen tertentu.

Baca Juga :  Mahasiswa UTM Kembali Raih Juara Nasional Dalam Tiga Katagori

Sahabat Haji Her, Moh Ali Ghufron mengatakan, karier Haji Her sukses yang diketahui masyarakat saat ini tidak lepas dari aral rintangan dan perjalanan pahitnya. Sejak usia remaja, Haji Her jadi tulang punggung keluarga, sebab Ayahnya meninggal dunia saat ia kecil duduk di bangku SMP.

“Makanya sejak kuliah, Haji Her biaya sendiri tanpa membebani orang tua. Ia memang dikenal ulet, bakat bisnisnya memang muncul sejak masih remaja, meski kuliahnya terkadang bisa dibilang sukses tidak sukses,” kata Ghufron dikutip dari Channel Youtube Faiz Slamet.

Pada tahun 2001, saat Haji Her kuliah di Unmuh Malang dan Ghufron kuliah di UTM Bangkalan, mereka berteman akrab. Bahkan tidak jarang keduanya saling bermain dan mengunjungi ke daerah tempat kuliah masing-masing.

Baca Juga :  Myze Hotel Sumenep Gelar Donor Darah dan Pemeriksaan Mata Gratis

Saat menjalani bisnis waktu kuliah, Haji Her membawa motor kelontongan. Bahkan tak jarang motornya tersebut sering dibawa ke Bangkalan untuk menjajaki bisnis alat-alat dapur.

“Bisnis alat-alat dapur ini sering dipasarkan ke banyak orang hingga ke sejumlah guru di lembaga sekolah SMA,” ujar pria yang akrab dipanggil Bos Pepeng itu.

Lebih lanjut ia bercerita, saat masuk ke lembaga sekolah, tepatnya di SMA 1 Bangkalan, ada cerita menarik yang tidak dilupakan Haji Her dan Ghufron. Bahkan cerita ini sering disampaikan Haji Her untuk memompa semangat anak muda, jika berbisnis itu tidak boleh mudah menyerah terhadap suatu keadaan yang pahit.

Baca Juga :  Santunan Anak Yatim jadi Bagian dari Acara Pelantikan PARNU di Desa Dempo Barat

“Saya dan Haji Her suatu ketika masuk ke lembaga sekolah, mengumpulkan para guru. Haji Her mempromosikan, kemudian memberi jaminan jika bisnis jualannya (alat-alat dapur) adalah bahan impor, tahan banting dan tidak mudah pecah,” ungkapnya.

Akan tetapi, upaya meyakinkan pembeli itu urung, sebab saat Haji Her hendak menginjak jualannya untuk dijadikan contoh, barang tersebut pecah dan retak. Merasa malu atas kejadian tersebut, Ghufron pun lari ke belakang meski Haji Her sudah meminta pertolongan.

“Kisah ini sering diceritakan kepada orang bahkan jadi motivasi Haji Her, bahwa ulet dan tahan banting serta tidak mudah menyerah, penting dimiliki setiap orang, sehingga jadi orang bijak yang bisa memetik sebuah perjalanan pahit,” tuturnya.***