SUMENEP, MaduraPost – Insiden tragis terjadi di sebuah swalayan NU yang berlokasi di Desa Batang-batang Daya, Kecamatan Batang-batang, Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur.
Seorang pegawai bernama Deris Ramdani, pramuniaga swalayan tersebut, meninggal dunia setelah tersengat aliran listrik saat membantu perbaikan atap bangunan, Sabtu (31/1/2026) siang, sekitar pukul 13.00 WIB.
Informasi yang dihimpun MaduraPost dari sumber internal swalayan yang enggan disebutkan namanya mengungkapkan, peristiwa itu memicu keresahan di kalangan pegawai.
Pasalnya, meski kejadian baru berlangsung beberapa jam, pihak pengurus pusat disebut tetap mendorong operasional swalayan agar kembali dibuka.
“Harusnya ada empati. Setidaknya sampai korban dimakamkan. Bukan langsung buka seolah tak ada duka. Ini yang membuat para pegawai tidak nyaman, bahkan di mata masyarakat terkesan tidak ada rasa empati,” ujar sumber internal tersebut, Minggu (1/2) siang.
Ia menambahkan, keputusan membuka kembali swalayan tak lama setelah insiden dinilai mencederai rasa kemanusiaan dan solidaritas antarpegawai.
“Ada duka, ada kehilangan, tapi responsnya justru seakan biasa saja,” tambahnya.
Sementara itu, Homaidi, Ketua Koperasi Syariah Nusa Umat yang membawahi swalayan NU Batang-batang, memberikan klarifikasi.
Ia menegaskan, bahwa seluruh pengurus hadir ke rumah duka dan telah menyampaikan permohonan maaf secara langsung kepada keluarga korban.
“Setelah almarhum sampai di rumah duka, kami semua pengurus hadir, bersilaturahmi, dan menyampaikan permohonan maaf kepada keluarga korban,” kata Homaidi, saat diwawancara MaduraPost melalui sambungan telepon di Sumenep, Minggu sore.
Terkait operasional swalayan, Homaidi mengakui bahwa toko sempat ditutup setelah insiden terjadi, namun tidak sampai satu hari penuh.
“Swalayan langsung kami tutup, tapi tidak satu hari penuh. Sekitar sore kami buka kembali. Bukan karena tidak berempati, tapi juga mempertimbangkan kebutuhan konsumen yang hendak berbelanja,” ujarnya.
Ia menegaskan, keputusan itu bukan berarti pihak pengelola mengabaikan rasa duka keluarga korban.
“Bukan tidak ditutup sama sekali, ditutup, hanya beberapa jam. Intinya kami juga memikirkan kebutuhan konsumen yang lain,” tambahnya.
Mengenai kronologi kejadian, Homaidi menjelaskan, bahwa saat itu swalayan sedang melakukan perbaikan atap. Korban disebut membantu tukang yang tengah memperbaiki seng di atap bangunan.
“Kebetulan tukangnya itu adalah paman dari korban. Almarhum membantu memperbaiki seng di atap swalayan,” jelasnya.
Diduga, seng yang diperbaiki berdekatan dengan kabel listrik PLN, sehingga memungkinkan terjadinya aliran listrik akibat gesekan atau kontak langsung.
“Mungkin karena jarak seng dengan kabel PLN sangat dekat, lalu korban memegangnya,” ungkap Homaidi.
Ia juga menuturkan, bahwa sejauh informasi yang ia terima, korban tidak diperintah secara resmi oleh pengelola untuk membantu pekerjaan tersebut.
“Setahu saya tidak disuruh. Kemungkinan itu inisiatif sendiri dari almarhum,” katanya.
Atas peristiwa tersebut, pihak Koperasi Syariah Nusa Umat menyampaikan permohonan maaf dan memastikan akan melakukan evaluasi internal.
“Kami selalu mengingatkan pengelola, jika berkaitan dengan hal-hal berbahaya, jangan sampai melibatkan karyawan. Ini di luar kuasa kami dan tidak ada unsur kesengajaan,” tegas Homaidi.
Ia berharap ke depan seluruh pengelola swalayan NU lebih berhati-hati dan memperketat standar keselamatan kerja agar kejadian serupa tidak terulang.***






