Pabrik Milik Warga Negara Uzbekistan di Sumenep Terbakar

  • Bagikan
KEBAKARAN. Kondisi pabrik usai alami kebakaran, puing-puing mesin pengering batok kelapa hangus terbakar. (Kasubbag Humas Polres Sumenep)

SUMENEP, MaduraPost – Sebuah pabrik pengering batok kelapa milik PT. Panda Coco Charcoal (Bricket) terbakar. Pabrik yang terletak di Desa Lobuk, Kecamatan Bluto, Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur itu alami kerugian hingga puluhan juta rupiah.

Insiden kebakaran tersebut terjadi pada Sabtu (5/6/2021) sekitar pukul 15.30 WIB kemarin. Terbakarnya tempat oven pengering arang batok kelapa itu diketahui milik Avazbeck (35), seorang warga Negara Uzbekistan.

BACA JUGA :  Achmad Fauzi Junjung Bahasa Ibu dalam Debat Pilbup Sumenep Putaran Kedua

Polisi langsung melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) penyebab pabrik itu terbakar. Sementara barang bukti (BB) yang berhasil diamankan yakni sisa mesin pengering berupa dinamo dan blower.

Dari hasil keterangan saksi pada polisi, awalnya dua orang pegawai yang sedang bekerja menjaga mesin pengering batok kelapa tiba-tiba melihat pada mesin pengering mengeluarkan kepulan asap, dan keluar api membakar mesin pengering.

BACA JUGA :  Peduli Sosial Polres Sumenep, Bersihkan Material Longsor Jalan Kabupaten

Melihat mesin dalam kondisi terbakar, dua orang pegawai tersebut berusaha memadamkan api di bantu beberapa karyawan lainnya.

“Sekitar 15 menit kemudian api berhasil dipadamkan sebelum petugas pemadam kebakaran datang,” ungkap Kasubbag Humas Polres Sumenep, AKP. Widiarti, dalam rilisnya, Minggu (6/6).

Polisi mengetahui bahwa dalam proses pengeringan batok kelapa tersebut dilakukan dengan cara di oven selama dua hari.

BACA JUGA :  Ruang Komisi III DPRD Pamekasan Bocor, Ma'lum Kantor Numpang

“Di mulai pada hari Jumat (4/6/2021) sekitar pukul 08.00 WIB, dan selesai pada hari Minggu (6/6/2021) sekitar pukul 08.00 WIB. Sayangnya, dalam proses pengeringan diduga terjadi konsleting listrik pada mesin pengering,” jelasnya.

Tidak ada korban jiwa dalam peristiwa kebakaran itu, namun pemilik pabrik mengalami kerugian sekitar Rp 75.000.000.-.

  • Bagikan