Scroll untuk baca artikel
Peristiwa

Mahasiswa Tuding Pemkab Sumenep Kongkalikong dengan Investor

Avatar
18
×

Mahasiswa Tuding Pemkab Sumenep Kongkalikong dengan Investor

Sebarkan artikel ini

SUMENEP, MaduraPost – Sejumlah mahasiswa yang mengatasnamakan Front Perjuangan Mahasiswa (FPM) gelar aksi demonstrasi ke kantor Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur. Rabu, (7/4/2021).

Aksi mahasiswa kali ini masih menyoal tentang adanya rencana tambang fosfat di Bumi Sumekar. Secara bergilir, mahasiswa menyampaikan aspirasinya. Orasi mahasiswa ini berlangsung sekitar pukul 12.30 WIB.

SCROLL UNTUK MELANJUTKAN MEMBACA
SCROLL UNTUK MELANJUTKAN MEMBACA
Baca Juga :  Pesan Kades Bunten Barat Menyambut Hari Raya Idul Fitri 1444 Hijriyah

Berikut tuntutan yang dibawa mahasiswa, diantaranya :

  1. Batalkan segala bentuk skema perampasan lahan dan kebijakan yang merugikan petani.
  2. Batalkan wilayah di peruntukan pertambangan fosfat di dalam RTWR Sumenep.
  3. Tolak tambang fosfat di Sumenep. Laksanakan reforma agraria sejati sebagai basis dari terbangunnya industrialisasi nasional yang kokoh dan mandiri.
  4. Berikan akses pendidikan seluas-luasnya bagi pemuda desa.
Baca Juga :  64 Pasang Sapi Berlaga di Lomba Kerapan Sapi Piala Bupati Sumenep 2025

“Mau jadi apa Sumenep jika penambangan fosfat nanti memang benar adanya,” teriak Dinda dalam orasinya, Rabu (7/4).

Usai melakukan orasi di gedung parlemen, massa aksi bergese ke kantor Bupati Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sumenep. Sebab, di depan gedung parlemen, mahasiswa tidak ditemui anggota wakil rakyat.

“Alibi Pemkab Sumenep adalah untuk percepatan perekonomian yakni adanya pertambangan fosfat, bulshit (Omong kosong) semua itu,” tudingnya.

Baca Juga :  Gudang Tembakau di Sumenep Dilahap Sijago Merah, Ada Mobil yang Ikut Terbakar

Menurut mahasiswa, Pemkab Sumenep telah bermain kongkalikong bersama investor. Mahasiswa juga menilai, tidak ada satupun aturan di Sumenep yang mensejahaterakan petani.

“Padahal basic masyarakat Sumenep bukanlah seorang petambang, melainkan petani,” tukasnya.