SUMENEP, MaduraPost – Sorotan terhadap pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur, kian menguat.
Setelah muncul laporan dugaan penganiayaan karyawan, kini dapur SPPG Yayasan Alif di Kecamatan Batuputih kembali menjadi perhatian publik akibat keluhan soal kualitas menu makanan bagi siswa.
Sejumlah wali murid menilai sajian yang diberikan kepada peserta didik diduga belum memenuhi standar gizi yang ditetapkan Badan Gizi Nasional (BGN).
Kritik tersebut salah satunya disampaikan oleh Wawan, seorang wali siswa di Desa Batuputih Kenek. Menurut Wawan, gagasan program MBG sejatinya memiliki tujuan yang baik, tetapi pelaksanaannya di lapangan dinilai masih bermasalah.
“Programnya sebenarnya mulia. Tapi ada dapur yang diduga menyalahgunakan kewenangan. Namanya makan bergizi gratis, tapi faktanya jauh dari kata layak,” ujarnya, Sabtu (14/2).
Ia menyebut menu yang diterima siswa terdiri dari nasi putih, telur goreng, tahu goreng, irisan mentimun dan tomat, sambal, serta satu buah salak. Namun, ia menduga kualitas bahan makanan tersebut tidak layak konsumsi.
Wawan bahkan mengaku menerima laporan bahwa nasi yang dibagikan diduga sudah basi, sementara buah salak yang diterima siswa disebut dalam kondisi busuk.
“Kalau sampai terjadi keracunan, siapa yang bertanggung jawab? Ke mana ahli gizinya?,” kata pria asal Tengedan itu.
Ia menegaskan perlunya perbaikan serius terhadap kualitas bahan makanan yang digunakan. Menurutnya, pengawasan harus dilakukan bersama karena MBG merupakan program prioritas pemerintah.
“Jangan sampai mencoreng nama baik pemerintah dan presiden,” tegasnya.
Mantan aktivis Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) itu juga berharap menu yang diberikan kepada siswa benar-benar sesuai standar gizi nasional.
Ia bahkan meminta dapur yang tidak melakukan pembenahan agar tidak lagi melanjutkan operasionalnya.
“Kalau kepala dapur tidak mau berbenah, sebaiknya dapurnya ditutup,” ujarnya.
Sementara itu, Ketua Yayasan Alif H. Mawardi maupun Kepala SPPG Moh. Fawaid belum memberikan tanggapan atas berbagai sorotan tersebut.
Upaya konfirmasi wartawan berulang kali dilakukan, namun panggilan telepon tidak direspons meski nada sambung terdengar aktif.
Kondisi ini menambah daftar persoalan yang membayangi pelaksanaan dapur MBG di Batuputih dan memunculkan tuntutan publik agar pengawasan serta transparansi program diperkuat.
Informasi terbaru menyebutkan, dapur MBG Yayasan Alif menyalurkan menu kering untuk kebutuhan konsumsi selama tiga hari.
Dalam paket tersebut terdapat roti yang disebut memiliki masa kedaluwarsa paling lama hingga 19 Februari 2026.***






