SUMENEP, MaduraPost – Tumpukan sampah rumah tangga yang menggunung di bahu Jalan Doktor Cipto, Desa Kolor, Kecamatan Kota, Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur, menuai keluhan warga dan pengguna jalan.
Limbah dalam kantong plastik berbagai warna itu dibiarkan menumpuk di tepi jalan dan menimbulkan bau menyengat.
Pantauan di lokasi, sampah berada tepat di sisi jalan utama yang cukup ramai dilalui kendaraan. Selain mengganggu pemandangan, keberadaannya juga memakan sebagian bahu jalan dan dinilai berpotensi membahayakan pengendara, terutama pada malam hari.
Rahmat (45), warga sekitar, mengatakan tumpukan sampah tersebut sudah beberapa hari tidak diangkut. Ia mengaku resah karena bau tak sedap semakin terasa saat siang hari.
“Baunya menyengat. Ini kan jalan umum, banyak orang lewat setiap hari. Harusnya cepat diangkut,” ujarnya, Kamis (2/4).
Keluhan serupa disampaikan Siti (32), pengguna jalan yang rutin melintas di kawasan tersebut. Menurutnya, sampah yang meluber hingga ke bahu jalan bisa memicu kecelakaan.
“Kalau malam lebih bahaya. Posisi sampahnya dekat badan jalan, takutnya ada pengendara yang menghindar lalu oleng,” katanya.
Kondisi ini mendapat tanggapan dari Ketua Komisi III DPRD Sumenep, M. Muhri. Ia menilai persoalan sampah di pusat kota harus segera ditangani secara serius oleh Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Sumenep.
“Harusnya persoalan sampah ini direspons serius oleh DLH Sumenep. Jangan malah dibiarkan berlarut-larut,” tegasnya saat dihubungi MaduraPost.
Muhri menekankan, tumpukan sampah tersebut telah mengganggu masyarakat secara langsung, baik dari sisi kenyamanan maupun keselamatan.
“Ini kan malah mengganggu warga dan pengguna jalan, mulai dari bau sampahnya, dan sampai memenuhi bahu jalan itu sampahnya,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan agar DLH tidak menjadikan keterbatasan personel sebagai alasan pembenar lambannya penanganan.
“DLH Sumenep jangan sampai beralibi kekurangan personel lah ya, yang ada dimaksimalkan. DLH harus respon dan tanggap persoalan sampah ini,” katanya.
Selain itu, Muhri menyinggung sikap pejabat publik yang dinilai sulit dikonfirmasi ketika muncul persoalan di tengah masyarakat. Ia menegaskan, pejabat tidak boleh menutup diri terhadap kritik dan masukan.
“Pejabat sekarang itu nggak boleh begitu, susah dikonfirmasi. Warga ini wajib mengkritik dan memberi masukan. Kalau misal susah dihubungi, ya repot ini pejabat,” tandasnya.
Menurutnya, persoalan sampah bukan lagi isu kecil di daerah, melainkan telah menjadi persoalan nasional yang membutuhkan kepekaan dan respons cepat dari dinas terkait.
“Sampah itu sudah menjadi persoalan nasional, cuma harusnya dinas terkait ini lebih peka ketika ada keluhan dari masyarakat. Apalagi sampahnya yang menumpuk ada di pusat kota, kan jadinya tidak bagus,” ucapnya.
Sementara itu, Kepala DLH Sumenep, Anwar Syahroni, serta Kepala Bidang Pengelolaan Sampah dan Limbah B3, Deddy Surya, belum memberikan tanggapan resmi.
MaduraPost telah berulang kali melakukan upaya konfirmasi melalui sambungan telepon dan pesan singkat, namun hingga berita ini diterbitkan belum memperoleh respons.***






