OPINI, MaduraPost – Pagi selalu datang dengan cara yang sama, pelan, dingin, dan kadang terlalu jujur. Di tanggal 9 Februari, kalender menandainya sebagai Hari Pers Nasional.
Sebuah hari yang, setidaknya di atas kertas, diperuntukkan bagi mereka yang hidup dari kata, bernafas dari fakta, dan berjalan dengan kompas bernama nurani. Namun, di lapangan, cerita pers tidak selalu seindah slogan.
Di sudut-sudut kota kecil hingga gedung-gedung pemerintahan yang berpendingin udara terlalu dingin, wartawan masih datang dengan sepatu yang sedikit berdebu, tas yang tak pernah benar-benar kosong, dan mata yang belajar membaca bahasa tubuh sebelum membaca rilis resmi.
Mereka datang membawa pertanyaan. Kadang pulang membawa jawaban. Lebih sering pulang membawa diam.
Menjadi penulis lepas, aku belajar satu hal, dunia pers itu seperti laut. Ada nelayan yang berangkat sebelum matahari terbit, berjuang melawan ombak, lalu pulang dengan ikan segar yang jujur.
Ada juga yang sekadar duduk di tepi pantai, menunggu ombak membawa sesuatu ke kaki mereka, lalu mengaku baru saja menaklukkan samudra.
Kita semua tahu istilah itu. Wartawan bodrex. Istilah yang terdengar seperti lelucon, tapi sering terasa seperti luka.
Mereka datang bukan dengan daftar pertanyaan, melainkan daftar harga. Mikrofon berubah jadi kalkulator. Kamera kadang lebih mirip kantong plastik yang siap menampung apa saja.
Berita bukan lagi soal kepentingan publik, melainkan kepentingan perut. Dan yang paling menyedihkan, publik sering tak bisa membedakan mana wartawan sungguhan, mana yang sekadar memakai kostum profesi.
Lucunya, profesi ini tidak pernah benar-benar kaya. Tapi reputasinya bisa sangat mahal.
Setiap kali satu orang memilih memeras daripada menulis, ada ratusan wartawan lain yang harus menjelaskan pada keluarga, pada narasumber, pada masyarakat.
“Tidak, kami tidak semua seperti itu.”
Di meja makan sederhana, banyak wartawan masih menghitung uang bensin sebelum berangkat liputan. Masih menawar harga kopi sachet di warung. Masih menunda membeli sepatu baru karena kamera lebih butuh diganti.
Mereka tidak viral. Tidak glamor. Tidak sering diundang ke acara mewah. Tapi mereka tetap menulis. Dan menulis, dalam bentuk paling jujur, selalu membutuhkan keberanian yang sunyi.
Pers yang sehat bukan hanya tentang kebebasan berbicara, tetapi juga kebebasan untuk menolak amplop. Kebebasan untuk pulang dengan kantong kosong tapi kepala tegak. Kebebasan untuk tetap miskin secara materi, tapi tidak bangkrut secara harga diri.
Hari Pers Nasional sering diisi ucapan selamat, seminar, spanduk, dan foto bersama. Semua rapi, semua formal. Tapi di luar ruangan acara, di jalanan yang panas dan kadang tidak ramah, ada wartawan yang tetap mengejar berita tanpa kartu VIP, tanpa ruang khusus, tanpa makan siang gratis.
Mereka tidak butuh tepuk tangan panjang. Mereka hanya butuh satu hal sederhana, kepercayaan publik yang tidak retak.
Dan kepercayaan itu mahal. Sangat mahal. Sekali pecah, sulit disusun kembali, bahkan dengan lem paling kuat sekalipun.
Sindiran tentang wartawan bodrex sebenarnya bukan untuk menertawakan. Itu alarm kecil yang terus berbunyi. Mengingatkan bahwa profesi ini selalu berjalan di garis tipis antara idealisme dan godaan. Antara pena dan amplop. Antara fakta dan fasilitas.
Di Hari Pers Nasional ini, mungkin tidak semua wartawan perlu dipuji. Tapi mereka yang masih menjaga jarak dari amplop, menjaga kata dari pesanan, dan menjaga hati dari harga, mereka layak dihormati.
Karena di negeri yang sering ribut oleh opini, masih ada orang-orang yang diam-diam memilih setia pada fakta.
Dan selama masih ada yang menulis dengan hati yang bersih, pers belum mati. Ia hanya sedang lelah.***
Oleh: Penulis Lepas
Sumenep, 9 Februari 2026






