Scroll untuk baca artikel
Daerah

THR Jangan Habis Seketika, BPRS Bhakti Sumekar Ajak Warga Atur Keuangan Lebaran

×

THR Jangan Habis Seketika, BPRS Bhakti Sumekar Ajak Warga Atur Keuangan Lebaran

Sebarkan artikel ini
LOKASI. Kantor pusat PT BPRS Bhakti Sumekar di Sumenep, yang terus mendorong literasi keuangan masyarakat, khususnya dalam pengelolaan THR jelang Lebaran. (Istimewa for MaduraPost)
LOKASI. Kantor pusat PT BPRS Bhakti Sumekar di Sumenep, yang terus mendorong literasi keuangan masyarakat, khususnya dalam pengelolaan THR jelang Lebaran. (Istimewa for MaduraPost)

SUMENEP, MaduraPost – Meningkatnya pengeluaran saat momen Lebaran sering kali membuat banyak orang abai dalam mengendalikan keuangan.

Kondisi tersebut mendorong PT BPRS Bhakti Sumekar (Perseroda) untuk lebih aktif memberikan edukasi kepada masyarakat agar mampu mengelola tunjangan hari raya (THR) secara bijak, sehingga tidak langsung habis dalam waktu singkat.

SCROLL UNTUK MELANJUTKAN MEMBACA
SCROLL UNTUK MELANJUTKAN MEMBACA

Upaya edukasi tersebut dilakukan melalui berbagai program literasi keuangan yang terus digalakkan secara berkelanjutan.

Sebagai bank kebanggaan Kota Keris, pihaknya mengimbau masyarakat agar menyusun perencanaan penggunaan THR dengan matang sejak awal.

Dengan demikian, dana yang diterima tidak hanya digunakan untuk memenuhi kebutuhan Lebaran semata, tetapi juga masih menyisakan cadangan keuangan setelah perayaan usai.

Direktur Utama PT BPRS Bhakti Sumekar, H. Hairil Fajar mengatakan, bahwa THR sejatinya bukan sekadar tambahan pemasukan yang dihabiskan untuk konsumsi sesaat.

Ia menilai, pengelolaan yang tepat akan sangat membantu menjaga stabilitas kondisi keuangan dalam jangka panjang.

”THR bukan untuk dihabiskan begitu saja, tetapi harus dikelola secara bijak agar kondisi keuangan tetap aman setelah Lebaran,” ujarnya, Rabu (25/3).

Menurutnya, masyarakat dapat membagi THR ke dalam empat pos utama pengeluaran.

Rinciannya, sebanyak 40 persen dialokasikan untuk kebutuhan Lebaran seperti belanja bahan pokok dan keperluan hari raya. Kemudian, 30 persen disisihkan sebagai tabungan atau cadangan keuangan.

Selanjutnya, 20 persen dianjurkan untuk disalurkan dalam bentuk sedekah atau infak sebagai wujud kepedulian sosial di momentum Ramadan dan Idul Fitri.

Sementara itu, 10 persen sisanya dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan pribadi atau self reward sebagai bentuk penghargaan terhadap diri sendiri.

Meski demikian, penggunaan tersebut tetap harus berada dalam batas yang wajar. Fajar menekankan bahwa pembagian ini penting untuk menjaga keseimbangan antara konsumsi, tabungan, dan tanggung jawab sosial.

Ia juga mengingatkan, kebiasaan menghabiskan THR tanpa perencanaan yang jelas berpotensi menimbulkan persoalan keuangan setelah Lebaran berakhir.

”Minimal 30 persen harus ditabung, karena bisa menjadi dana darurat untuk kebutuhan mendesak di kemudian hari,” tegasnya.

Tidak hanya berfokus pada aspek finansial, pihaknya juga menyoroti pentingnya nilai keberkahan melalui sedekah.

Ia menilai, berbagi di momen ini tidak hanya memberikan manfaat bagi orang lain, tetapi juga berdampak positif terhadap kondisi keuangan secara keseluruhan.

”Kami berharap kesadaran masyarakat terhadap pentingnya perencanaan keuangan semakin meningkat, khususnya dalam mengelola pendapatan tambahan seperti THR agar tidak menimbulkan tekanan ekonomi setelah perayaan Idul Fitri,” tandasnya.***