close menu

Masuk


Tutup x

Soal Dugaan Bayi Tertukar di RSUDMA Sumenep, Alibi Sampai Perawat Rumah Sakit Ikut Terseret

Penulis: | Editor:

SUMENEP, MaduraPost – Soal dugaan bayi tertukar di Rumah Sakit Umum Daerah dr. H. Moh. Anwar (RSUDMA) Sumenep, Madura Jawa Timur, hingga saat ini belum menemukan titik terang.

Bayi dari pasangan Nurma Ningsih (25) dan Subroto (27), warga Desa Nyabakan Barat, Kecamatan Batang-Batang itu, hingga saat ini masih didalami pihak rumah sakit.

Arman Endika Putra, Humas RSUDMA Sumenep menerangkan, apabila akan mengkonfirmasi lebih lanjut terkait pengembangan kebenaran informasi di internal rumah sakit terhadap perawat yang saat itu bertugas.

“Kita masih melakukan kroscek atau penelusuran terkait siapa yang bertugas saat itu. Sampai saat ini masih kami gali,” ungkapnya, pada awak media, Jumat (21/11).

Namun, Arman mengaku jika telah mengetahui siapa nama petugas yang bertugas pada saat itu.

“Kalau oknum petugasnya kami sudah tahu orangnya, kan memang ada jadwalnya. Yang kami gali kebenaran informasinya, apakah oknum itu melakukan hal seperti itu atau tidak,” jelas dia.

Sayangnya, belum bisa dipastikan kapan proses penelusuran terhadap oknum perawat tersebut final. Sebab, kata Arman, informasi tersebut masih didalami.

Secara kronologis, Arman menceritakan, pada hari yang bersamaan, saat ibu Nur Maningsih melahirkan, belum ada pasien yang melahirkan lagi di RSUDMA Sumenep.

“Jadi tidak mungkin bayinya tertukar, kan cuma satu bayi itu yang melahirkan di hari itu, tidak ada bayi lain. Kemudian bayi itu diberi tanda gelang, dan orang tuanya tahu kalau sudah diberi tanda gelang,” ucapnya bercerita.

Disinggung terkait postur tubuh dan dugaan rambut bayi yang berbeda, Arman beralibi bahwa hal tersebut tidak bisa dipastikan dalam pengakuan sepihak. Diketahui, dalam bukti orang tua korban yang ditunjukkan dalam bentuk foto terlihat semula bayi tersebut tak memiliki rambut alias gundul.

“Kita tidak bisa dalam pengakuan sepihak, kalau di bidang kesehatan itu ada banyak hal atau metode yang bisa digunakan untuk membuktikan. Ini harus turunnya atau bukan. Hal yang paling gampang bisa juga dari golongan darah atau ke tes DNA,” katanya.

“Kalau soal rambut itu kan subyektif, kalau kita kan juga tidak menanyakan kenapa gundul, saya kan gak bisa menyampaikan itu. Yang jelas kan sudah di beri tanda dengan gelang bayinya itu, dan gelang itu tidak mungkin mudah rusak, kecuali digunting,” imbuhnya.

Pihaknya beranggapan, jika dugaan masyarakat malah membuat perdebatan yang kurang objektif.

“Tapi kalau sesuatu yang objektif seperti yang saya bilang tadi ada banyak metode untuk mencocokkan,” paparnya.

Disisi lain, orang tua korban pada Senin (15/11/2020) lalu, sempat ingin menemui darah dagingnya sendiri. Namun, diduga dihalang-halangi oleh perawat rumah sakit.

Ditanya persoalan tersebut, Arman mengaku tidak ada kejadian yang menunjukkan penolakan atau ada respon petugas yang berlebihan, yang dilakukan dalam keadaan dan kondisi normal, atau wajar.

Dikonfirmasi terpisah, Risko, saudara sepupu Subroto mengaku, di hari yang bersamaan dengan lahirnya anaknya itu, terdapat dua bayi yang dilahirkan.

“Apabila pihak rumah sakit mengklaim di hari yang bersamaan hanya ada satu bayi yang dilahirkan, artinya rumah sakit Sumenep ini bisa dipastikan berbohong. Yang bilang begitu bukan saya, tapi perawat itu yang bilang,” ungkapnya pada media.

Risko mengurangaikan, soal kejadian oknum perawat yang mengambil dan membawa pergi si bayi, saat itu ibunya menyadari saat memberikan ASI pada anaknya bukanlah darah dagingnya sendiri.

Hal itu diperkuat lantaran melihat kondisi rambut sang bayi berbeda, Bahkan, saat itu, kata dia, perawat yang membawa pergi bayi tersebut tak merespon kembali.

“Saat ibu bayi kaget melihat darah dagingnya berbeda kondisi rambutnya, oknum perawat tersebut malah kabur, tanpa melakukan upaya komunikasi dengan baik, atau setidaknya klarifikasi. Dari sini saja kan sudah bisa kelihatan,” urainya. (Mp/al/rul)