Scroll untuk baca artikel
Headline

Santri Lepelle Geruduk Trans Icon Surabaya: Tuntut Chairul Tanjung Minta Maaf atas Tayangan Xpose Trans7

Avatar
86
×

Santri Lepelle Geruduk Trans Icon Surabaya: Tuntut Chairul Tanjung Minta Maaf atas Tayangan Xpose Trans7

Sebarkan artikel ini
Caption: Ratusan santri miftahul ulum lepelle kabupaten sampang melakukan aksi damai di kantor trans7 kota surabaya

SURABAYA, MaduraPost – Ratusan santri yang tergabung dalam Himpunan Alumni Santri dan Simpatisan Pondok Pesantren Miftahul Ulum Lepelle (HIASAN-MU) Robatal, Kabupaten Sampang, Madura, menggelar aksi demonstrasi di depan gedung The Trans Icon, Surabaya, Jumat (17/10/2025).

Mereka menuntut tanggung jawab pemilik Trans7 sekaligus bos Trans Media dan CT Corp, Chairul Tanjung, atas tayangan program Xpose Uncensored yang dinilai menghina ulama dan lembaga pesantren.

SCROLL UNTUK MELANJUTKAN MEMBACA
SCROLL UNTUK MELANJUTKAN MEMBACA

Aksi berlangsung sejak pagi dengan pengawalan aparat kepolisian. Massa membawa poster bertuliskan: “Harga Diri Pesantren Tidak Dijual di Layar Sensasi Murahan”, “Trans7 Harus Dihukum”, hingga “Jangan Jadikan Fitnah Sebagai Hiburan”.

“Ini bukan persoalan sepele. Kami menuntut permintaan maaf resmi, tertulis, dan disampaikan langsung oleh pimpinan tertinggi Trans7,” ujar Mat Jusi, koordinator aksi, di depan gerbang Trans Icon Mall. Ucapan itu disambut pekik “betul!” dari ratusan santri yang memadati kawasan mal tersebut.

Baca Juga :  Lakukan Audiensi, HMI Pamekasan Minta Polisi Usut Tuntas Tragedi 21-22 Mei di Jakarta

Mat Jusi menegaskan bahwa jika tidak ada respons dari TransCorp, gerakan serupa akan digelar di seluruh jaringan perusahaan milik Chairul Tanjung. “Kalau tidak ada tanggapan, kami akan menduduki semua lini bisnisnya. Ini bukan gertakan kosong,” ujarnya.

Menurut Mat Jusi, permintaan maaf yang sempat disampaikan Trans7 sebelumnya dianggap belum menyentuh substansi persoalan. “Trans7 tidak bisa cuci tangan. Tidak masuk akal bila stasiun sebesar itu tidak mengontrol isi siarannya,” katanya.

Ia menilai, tayangan Xpose Uncensored bukan hanya menyudutkan pesantren tertentu, tetapi menciptakan stigma negatif terhadap dunia pesantren secara luas.

“Yang turun ke jalan ini santri, bukan massa bayaran. Kami sudah cukup lama menahan diri,” lanjutnya.

Baca Juga :  Menilik Harta Kekayaan Kadisporabudpar Sampang yang Sangat Fantastis

Dalam orasinya, para santri juga mengecam penyebutan nama-nama kiai yang dianggap dilecehkan dalam tayangan tersebut, di antaranya KH Anwar Manshur, Pengasuh Pondok Pesantren Lirboyo Kediri, dan KH Ali Mustaqim, Pengasuh Pondok Pesantren Miftahul Ulum Lepelle.

“Jika Chairul Tanjung tidak menyampaikan permohonan maaf langsung kepada Kiai Ali Mustaqim, kami akan menyerukan boikot terhadap seluruh anak perusahaan CT Corp,” tegas Mat Jusi.

Aksi sempat diwarnai pemukulan beduk simbolik oleh peserta demonstrasi sebagai tanda peringatan moral. “Ini gendang perang,” teriak salah satu orator dari atas mobil komando, namun mereka memastikan aksi tetap berlangsung damai.

Dalam pernyataan sikap tertulisnya, HIASAN-MU menyampaikan lima tuntutan utama:

  1. Permintaan maaf resmi dari Chairul Tanjung, manajemen Trans7, dan tim Xpose Uncensored kepada KH Ali Mustaqim, para kiai, dan seluruh pesantren di Indonesia.
  2. Klarifikasi publik terkait proses produksi tayangan, termasuk sumber narasi, verifikasi data, dan alasan framing yang merugikan pesantren.
  3. Sanksi internal terhadap tim produksi Xpose Uncensored, serta pertanggungjawaban etik dari reporter, produser, dan redaktur terkait.
  4. Sanksi tegas dari Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) atas dugaan pelanggaran kode etik jurnalistik dan penyiaran.
  5. Jika tuntutan tak direspons dalam waktu 3 x 24 jam, HIASAN-MU mengancam akan menggelar aksi lanjutan berskala nasional, menggugat secara hukum, dan menyerukan boikot terhadap seluruh jaringan Trans Media.
Baca Juga :  KEPALA DESA BIRA TIMUR SOKOBANAH MENGUCAPKAN SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI 1441 H, MOHON MAAF LAHIR DAN BATIN

“Ini bukan soal pribadi Chairul Tanjung,” tegas Mat Jusi menutup orasi. “Ini soal tanggung jawab etik sebuah lembaga penyiaran yang seharusnya tidak menjadikan pesantren sebagai bahan sensasi.”