Scroll untuk baca artikel
Daerah

Provokasi Digital di Kangean, Ketika Perdebatan Pembangunan Berubah Jadi Perang Akun Anonim

Avatar
120
×

Provokasi Digital di Kangean, Ketika Perdebatan Pembangunan Berubah Jadi Perang Akun Anonim

Sebarkan artikel ini
BEROPERASI. Potret nelayan saat berada di sekitar kapal induk milik PT KEI. (Istimewa for MaduraPost)
BEROPERASI. Potret nelayan saat berada di sekitar kapal induk milik PT KEI. (Istimewa for MaduraPost)

SUMENEP, MaduraPost – Pulau Kangean, Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur, kini menghadapi babak baru dalam dinamika sosialnya.

Bukan lagi sekadar perdebatan soal pembangunan dan eksplorasi seismik, tetapi pergeseran perilaku sebagian warganya di ruang digital.

SCROLL UNTUK MELANJUTKAN MEMBACA
SCROLL UNTUK MELANJUTKAN MEMBACA

Sejumlah pihak yang menolak kegiatan seismik di wilayah tersebut justru dituding menjelma menjadi “pasukan maya” yang menebar ujaran kebencian di media sosial.

Berbagai unggahan yang menentang pembangunan di Kangean kini tak jarang disertai serangan pribadi, fitnah, hingga upaya memecah belah masyarakat.

Dalam satu hari, bisa muncul puluhan komentar bernada provokatif dari akun yang berbeda, namun diduga dikendalikan oleh orang yang sama. Fenomena ini menciptakan kabut informasi yang sulit ditembus antara fakta dan rekayasa opini.

Baca Juga :  Baru Seumur Jagung, Proyek Lapen di Desa Kacok Palengaan Sudah Rusak

“Yang mereka lakukan bukan lagi menyuarakan aspirasi, tapi membangun narasi palsu untuk menebar ketakutan,” kata seorang tokoh pemuda Kangean yang meminta identitasnya dirahasiakan, Rabu (12/11).

Ia menyayangkan, semangat kritik yang seharusnya menjadi bagian dari demokrasi justru berubah menjadi alat provokasi.

Menurutnya, jika situasi ini terus dibiarkan, bukan hanya pembangunan yang akan terhambat, tetapi juga tatanan sosial yang telah lama terbentuk di pulau itu.

Baca Juga :  Pemerintah Desa Tobai Barat Sampang Salurkan Bantuan Langsung Tunai Dana Desa

“Kangean bisa kehilangan kepercayaannya sendiri. Orang jadi saling curiga, saling menjatuhkan,” ujarnya.

Fenomena provokasi digital ini menandai gejala yang lebih dalam, krisis moral di tengah masyarakat yang semakin terpolarisasi oleh isu pembangunan.

Beberapa warganet mulai menyoroti bahwa konflik di dunia maya telah merembes ke dunia nyata, muncul ketegangan antar tokoh desa, perpecahan antar kelompok muda, hingga renggangnya hubungan antar keluarga.

“Bukan soal setuju atau tidak setuju terhadap proyek seismik,” tuturnya.

“Masalahnya adalah bagaimana media sosial kini digunakan untuk mengaburkan kebenaran dan menumbuhkan kebencian,” tambah dia.

Baca Juga :  Di Masa Pandemi, PAD Wisata di Sumenep Naik Hingga Rp 575 Juta

Dalam situasi ini, banyak pihak menyerukan agar masyarakat Kangean lebih berhati-hati dalam menyerap informasi.

Membangun daerah, kata mereka, tidak bisa dilakukan dengan cara memecah belah. Di tengah ancaman penyalahgunaan narkoba dan menurunnya moral generasi muda, Kangean membutuhkan ruang dialog yang sehat, bukan perang komentar di dunia maya.

“Kalau semua sibuk saling menuding, siapa yang mau membangun. Kangean tak boleh tenggelam dalam kebencian digital. Sudah saatnya kita kembali waras, dan berpihak pada masa depan,” tukasnya.***