Mengunjungi Wisata Tertua di Sampang: Hutan Kera Nepah

  • Bagikan

Kabupaten Sampang merupakan satu di antara kabupaten di Madura yang memiliki potensi unggulan wisata, termasuk di dalamnya adalah Wisata Kera Nepah, di Desa Batioh, Kecamatan Banyuates. Wisata ini disebut-sebut sebagai wisata tertua di antara wisata lain, seperti apa ceritanya?

IMRON MUSLIM, Sampang

Selain pemandangannya yang eksotis, pantai di sekelilingnya jadi medan magnet bagi pengunjung. Menariknya wisata ini dihuni hewan-hewan jinak yang tak seliar hewan di luar, yakni kera.

Jarak wisata kurang lebih 45 kilo meter, baik dari Kota Sampang maupun Kota Bangkalan. Pada Minggu (2/2) repoter Madura Post bersama repoter lain mencoba menelusuri wisata yang berdampinga dengan Kecamatan Ketapang tersebut.

Tepatnya pukul 10.00 WIB sasaran Investigasi menyasar ke rumah Kepala Desa Batioh H. Suud Ali di kediamannya. Di sana banyak berdiskusi seputar asal-muasal wisata Hutan Kera Nepah.

Menurut Suud, Hutan Kerah Nepah merupakan wisata unik dan menarik untuk dikunjungi wisatawan luar. “Banyak wisatawan dari luar Madura, dari Jawa Tengah yang pernah berkunjung kesini mas untuk melihat keindahannya,” kata Suud.

Akan tetapi pihaknya masih belum bisa memaksimalkan kawasan wisata karena terkendala beberapa aturan. Meski demikian, ia berharap Pemkab Sampang dengan terobosannya bisa memaksimalkan.

BACA JUGA :  Dua Ekor Sapi Hilang, Warga Duga Akibat Instruksi Camat Batang-Batang 

“Semoga Pemerintah Daerah bisa memaksimalkan, terlebih memang Pak Bupati prioritasnya sekarang adalah sektor wisata. Hal tersebut bisa menunjang nantinya terhadap perekonomian masarakat,” harapnya.

Diskusi yang berjalan kurang lebih satu jam lebih itu akhirnya diputus, dengan alasan akan turun ke lapangan untuk mengambil foto wisata.

Tiba di lokasi wisata, juru parkir sudah menunggu para pengunjung di sebelah selatan area. Pengunjung ditarik Rp 5 ribu. Sementara di sekitar tempat wisata banyak orang yang berjualan makanan khas Madura. Salah satu makanan yang sempat dicicipi adalah rujak petis campur kacang tanah.

Sambil menunggu selesainya adonan penjual rujak, menikmati desiran ombak yang sangat merdu terdengar di telinga bersama dengan deburan pasir yang sesekali terbang bersama angin sepoi kala itu.

Di lokasi, pohon membungkuk dan rindang dengan lebar jalan 3 meter. Semula tak ada kera yang bertiarap di tanah atau di atas pohon, karena jaraknya kurang masuk ke dalam.

“Wisata disini dibandingkan dengan yang yang lain paling kuno mas, cuma mungkin tidak serame tempat yan lain seperti pantai Lon Malang,” tutur salah seorang pengunjung kepada Madura Post.

BACA JUGA :  Hati-Hati Akun Facebook Palsu Atas Nama "Imron Amin" Anggota DPR-RI

Taklama berjalan di area tersebut, pengunjung dikagetkan dengan munculnya beberapa ekor hewan kera dari dalam hutan. Kera keluar di latar belakangi kode pemanggilan yang merangsang kera untuk keluar.

Asal Usul nama Hutan Kera Nepah

Banyak yang mengira kalau wisata Hutan Kera Nepah ini masuk kawasan Desa Nepa, karena namanya yang sepintas memang hampir sama.

Tapi jangan salah arti, Nama Nepah berasal dari nama pohon yang mengelilingi kawasan hutan tersebut yakni Pohon Nepah.

Dulu pohon ini banyak berjejer di area wisat. Tapi sayang, sekarang kenyataannya sudah tidak ara pohon tersebut. Jadi Wisata Huran Kera Nepah bukan masuk pada kawasan Desa Nepa akan tetapi masuk di area Desa Batioh.

Hal tersebut diperjelas dengan data peta dan tanah yang dimiliki oleh Desa Batioh.

Mata Pencaharian Masyarakat Batioh

Desa Batioh memilik jumlah penduduk kurang lebih 4000 jiwa. Dulu warga di desa ini banyak yang lebih memilih menjadi Tenaga Kerja Indonesia di luar negeri. Ada yang mencari rezeki ke Arab Saudi, Malaysia dan negara-negara lain.

BACA JUGA :  Labrak Aturan Pertamina, SPBU Pragaan Layani Penjualan BBM Pertalite Khusus ke Mobil Pribadi

Namun sekarang berbeda, masayarakat lebih memilih bekerja di kampung halamannya untuk membiayai keluarganya.

“Sekarang warga disini banyak yang menjadi wirausaha, seperti usaha tambak udang, menjadi nelayan dan ada juga yang bertani seperti Melon dan semangka,” kata Kades Batioh Suud Ali.

Sementara itu, Anggota DPRD Sampang H. Ali dari dapil tersebut mengatakan, dirinya sangat mendukung penuh program Pemkab Sampang terhadap program wisata di daerahnya.

Walau begitu, politisi PKB itu berharap Bupati Sampang Slamet Junaidi untuk segera membangun infrastruktur demi menunjang akses menuju kawasan wisata Hutan Kera Nepah.

“Saya rasa Bupati memang punya program yang sangat bagus dari sektor wisata, kita tinggal tunggu saja programnya kedepan seperti apa terutama di tempat wisata disini,” tutur anggota DPRD Sampang dari Komisi I tersebut.

Ali menambahkan, apapun yang dilakukan pihak Pemkab Sampang dalam mengembangkan wisata, pihaknya akan mendukung.

“Intinya, wisata ini adalah berada di Desa Batioh, jadi semua masyarakat yang berada disini harus terlibat didalamnya,” pungkasnya. (red)

  • Bagikan