close menu

Masuk


Tutup x

Leprid Berikan Penghargaan Kepada Disdik Sumenep dalam Pembacaan Macapat Terlama se-Dunia

Penulis: | Editor:

SUMENEP, MaduraPost – Tepat pada perayaan Hari Guru Nasional (HGN) 2020, Dinas Pendidikan (Disdik) Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur, mendapat penghargaan dari Lembaga Prestasi Indonesia Dunia (LEPRID).

Pagelaran rekor dunia tersebut dilakukan selama 75 jam nonstop yang dibacakan oleh 13 grup terbanyak di Sumenep. Agenda fenomenal itu mengangkat tema ‘Peran Guru dalam Melestarikan Budaya Leluhur’. Dimulai sejak tanggal 22 sampai 25 November 2020.

Kepala Disdik Sumenep, Carto, mendapatkan penghargaan sebagai inisiator pembacaan Macapat terlama di dunia. Leprid juga memberikan penghargaan kepada Bupati Sumenep, Busyro Karim, sebagai pemrakarsa acara Macapat terlama di dunia.

BACA JUGA :  Disdik Sumenep Buka PTM, Chek Tanggalnya

Penganugerahan prestasi itu diberikan langsung oleh Ketua Umum Leprid, Paulus Pangka, di Kantor Pemkab setempat usai upacara perayaan HGN, Rabu (25/11/2020).

Disamping itu, dalam HGN tahun ini Disdik Sumenep berkomitmen untuk mengembangkan pendidikan berbasis budaya lokal dengan tetap mempertahankan budaya leluhur.

Hal ini dilakukan sebagai upaya untuk membentuk karakter peserta didik yang berkualitas dan bermoral. Sehingga acara pagelaran pembacaan Macapat diinisiasi oleh Disdik.

BACA JUGA :  Disdik Sumenep Berjanji Akan Percepat Administrasi Gaji Guru PPPK Tahap II Formasi Tahun 2021

Dalam agenda yang memecahkan rekor pembacaan Macapat terlama di dunia tersebut, juga dihadirkan peserta didik dari sekolah dasar. Usaha itu untuk menumbuhkan minat dari generasi muda akan kesenian Macapat.

Ketua Panitia Pelaksana, Muhammad Saidi, beberapa waktu lalu mengatakan, kesenian Macapat tersebut digelar untuk mempertahankan dan mengenalkan kembali budaya leluhur yang diprediksi akan punah kepada generasi muda di Kabupaten ujung timur pulau Madura.

BACA JUGA :  Soal UN Tahun ini Tidak Ada, Disdik Sumenep Kembalikan Pada Sekolah

Menurutnya, minat anak muda akan kesenian Macapat ini terbilang minim. Dari kekhawatiran tersebut, pihaknya berharap lewat pelaksanaan Macapat akan tumbuh minat untuk belajar kesenian langka itu.

“Usaha kita untuk mengenalkan kembali kesenian Macapat kepada peserta didik, agar nantinya tumbuh ketertarikan untuk belajar,” jelasnya. (Mp/al/kk)