Kisah Pembunuh 100 Orang yang Masuk Surga Karena Niat

  • Bagikan

ARTIKEL, MaduraPost – Allah SWT menciptakan manusia sebagai makhluk yang paling sempurna dibandingkan dengan makhluk yang lain. Hal itu yang menjadikan derajat manusia bisa lebih mulia dibandingkan Malaikat.

Namun sebaliknya, Manusia akan lebih hina dari binatang apabila tidak bisa memanfaatkan Fitroh yang ada dalam dirinya dengan cara terbuai mengikuti hawa nafsunya.

Sebagai manusia, kita tidak bisa lepas dari kesalahan atau dosa, baik disengaja atau tidak. karena dosa merupakan fitroh dalam setiap diri manusia, Kecuali bagi manusia yang ma’sum yaitu Baginda Nabi Muhammad SAW.

Namun sebesar apapun dosa yang kita lakukan, Sebagai orang yang beriman Tentu kita yakin bahwa besarnya dosa yang kita lakukan, jauh lebih besar Rahmat dan ampunan Allah SWT.

Sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadist yang sangat mashur tentang seseorang yang telah membunuh seratus orang, namun diampuni dosanya karena niat yang tulus ingin bertaubat kepada Allah SWT.

BACA JUGA :  Motivasi Slamet Ariyadi Dalam Acara Pelantikan Pengurus DPC IMAN Bangkalan

Dari Abu Sa’id Sa’ad bin Malik bin Sunan al-Khudri RA bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda :

“Dulu pada zaman sebelum kalian, ada seseorang yang telah membunuh 99 orang, kemudian ia mencari orang yang paling pandai di muka bumi ini, maka ditunjukkan kepadanya seorang pendeta (ahli ibadah). Lalu ia segera mendatanginya dan dikatakan kepadanya, ‘Sesungguhnya ia sudah membunuh 99 orang, apakah ia masih mempunyai kesempatan untuk bertaubat?’

‘Tidak’, jawab si pendeta. Maka orang itu pun membunuh pendeta tersebut sehingga ia menggenapkan orang yang dibunuhnya menjadi 100 orang.

Setelah itu ia kembali mencari orang yang paling pandai di muka bumi, hingga ditunjukkan kepadanya seorang alim. Lalu dikatakan kepadanya, ‘Sesungguhnya ia sudah membunuh seratus orang, apakah ia masih mempunyai kesempatan untuk bertaubat?’

BACA JUGA :  Tingkatkan Ekonomi Desa, Kepala Desa di Sampang Study Banding ke Banyuwangi

Orang alim itu menjawab, ‘Iya. Siapakah yang dapat menghalangi antara dirinya dengan taubatnya? Berangkatlah engkau ke suatu tempat (negeri), sesungguhnya di sana terdapat orang-orang yang beribadah kepada Allah SWT. Karena itu, beribadahlah dirimu bersama mereka, dan janganlah engkau kembali lagi ke negerimu, sebab itu adalah negeri yang jelek’.

Maka, ia pun berangkat. Namun sampai setengah perjalanan, ia menemui ajalnya Maka Malaikat azab dan Malaikat rahmat berselisih pendapat mengenai orang itu. Malaikat rahmat berkata, ‘Ia telah datang dalam keadaan bertaubat, dan dengan hatinya ia telah bertolak menuju Allah SWT. Sedangkan Malaikat azab berkata, ‘Sesungguhnya ia belum pernah berbuat kebaikan sama sekali!’

BACA JUGA :  Kasus Pencabulan Anak Dibawah Umur Kembali Gegerkan Bangkalan, Pelaku Diduga Kerabat Korban

Kemudian mereka didatangi Malaikat dalam wujud seorang manusia, kemudian mereka menjadikan Malaikat ini sebagai penengah di antara mereka. Maka, Malaikat itu berkata, ‘Ukurlah jarak antara kedua daerah itu! Maka, ke daerah mana ia lebih dekat kepadanya, itulah yang menjadi bagiannya’. Maka mereka pun melakukan pengukuran hingga akhirnya mereka mendapatkannya lebih dekat dengan daerah yang ditujunya, lalu ia pun diambil oleh Malaikat rahmat.” (HR Bukhari dan  Muslim).

Dari hadits diatas dapat Kita ambil hikmah bahwa sebesar apapun dosa yang kita lakukan, Namun kita menyadari dosa yang kita lakukan karena ketidak mampuan kita menghindari, dan ada niat yang tulus untuk bertaubat kepada Allah SWT, Maka pintu taubat akan selalu terbuka.

Sumber : Kitab Riyadhus Shalihin

  • Bagikan