Imbauan Disdik Sumenep Soal Kewaspadaan Penculikan Anak Meresahkan

  • Bagikan

SUMENEP, MaduraPost – Surat Edaran (SE) dari Dinas Pendidikan (Disdik) Kabupaten Sumenep, Jawa Timur, soal kewaspadaan terhadap upaya penculikan anak mendapatkan respon negatif. Imbauan kehati-hatian tersebut justru dianggap meresahkan para orang tua. SE itu sendiri menyebar berantai melalui pesan WhatsApp sejak Rabu (19/2/2020) kemarin.

Salah satu orang tua siswa TK di Kecamatan Ganding, A. Muhaimin, mengaku terkejut saat menerima pesan tersebut. Menurut dia, terbitnya SE itu seolah-olah membenarkan informasi penculikan anak di daerah lain, dan mulai menyasar Kabupaten Sumenep. Ia mengatakan tidak ada lain di benak kecuali keselamatan anak usai membaca pesan itu.

BACA JUGA :  Owner Cantik, Mengintip Warung Bakso Semox di Bangkalan

“Pesan itu saya dapatkan di grup WhatsApp. Surat itu mengisyaratkan penculikan anak itu benar adanya,” kata Muhaimin, Kamis (2/20/2020).

Ia pun mengaku segera mencari kebenaran informasi penculikan anak itu di internet. Media mainstream yang ia akses rata-rata menyebut penculikan anak itu hoaks. Sehingga ia tidak habis pikir soal alasan penerbitan SE yang meresahkan tersebut.

BACA JUGA :  Peduli Warga Miskin Akibat Covid-19, Pemdes Rekkerrek Alokasikan 30 Persen DD Untuk BLT

Selain itu, kata Muhaimin, kebanyakan orang tua siswa belum terbiasa dengan dunia teknologi dan informasi, sehingga menelan informasi apa pun dengan mentah. Setelah mendapatkan informasi imbauan dari Disdik tersebut, mereka langsung melarang anaknya untuk bermain seperti biasanya.

“Jangan hanya karena ingin dianggap tanggap kemudian seolah-olah mendramatisir keadaan, kan rusak nanti. Coba cek ke bawah kalau tidak percaya bahwa imbauan itu meresahkan,” tegasnya.

BACA JUGA :  Pemerintah Desa Karang Penang Oloh Sampang Ucapkan Selamat HUT Kemerdekaan Indonesia ke 76

Kepala Disdik Sumenep, Carto, saat dikonfirmasi wartawan soal SE tersebut mengatakan agar semua pihak terkait meningkatkan kewaspadaan. Ia pun merasa perlu untuk melakukan langkah antisipasi agar tidak terjadi penculikan anak.

“Bisa saja yang jemput adalah orang lain, sehingga perlu adanya langkah antisipasi dari guru misal diantar,” ucap Carto. (mp/mat/rul)

  • Bagikan