SCROLL UNTUK MELANJUTKAN MEMBACA
Opini

Haram Bagi Perempuan Untuk Merdeka

Avatar
×

Haram Bagi Perempuan Untuk Merdeka

Sebarkan artikel ini

Moh. Busri*

OPINI, Madurapost.id – Keberadaan perempuan selalu dipandang sebagai perhiasan terindah, bahkan peradaban yang baik juga ditentukan oleh moral perempuan itu sendiri. Kebangkitan kaum perempuan dalam melawan patriarki menjadi awal dari sejarah kemenangan perempuan dalam melawan segala penindasan hak terhadap dirinya.

SCROLL UNTUK MELANJUTKAN MEMBACA
SCROLL UNTUK MELANJUTKAN MEMBACA

Maka dengan kebangkitan itulah perempuan mulai mendapatkan hak yang sesungguhnya, baik hak dalam kebebasan berpendapat, hak perlindungan hidup, bahkan dalam hak memperoleh pendidikan. Tetapi persoalannya apakah hari ini perempuan telah merdeka dan mungkinkah perempuan telah dapat menikmati kemerdekaan itu.

Mungkin jawaban dari persoalan ini dapat dilihat dari kesadaran setiap individu seorang perempuan. Pada nyatanya setiap kesadaran seseorang tidak akan sama namun jika hak kemerdekaan itu tidak disadarinya maka perempuan akan kehilangan kesempatan untuk menikmati manisnya kemerdekaan hidup.

Berbicara sosok perempuan maka tidak akan pernah lepas dari sifat lemah lembut dan pola pikirnya yang penurut. Bahkan bahasa yang sering dijumpai, seorang perempuan lebih suka melampiaskan rasa keterkekangannya dengan cara menangis, itulah perempuan.

Pada sisi yang lain seorang perempuan juga selalu terikat oleh penilaian masyarakat yang membatasi langkahnya dengan tiga peranan yaitu sebagai pelayan di kasur, sumur, dan dapur. Maka dengan adanya pandangan masyarakat yang demikian, perempuan menjadi patah semangat untuk mengejar cita-citanya yang tinggi.

Salah satu bukti ketidak merdekaan perempuan adalah dengan membudayanya pernikahan dini. Menurut informasi yang dikutip dari Tempo.co yang dipublikasikan pada 09 Agustus 2019 menunjukkan data Badan Pusat Statistik (BPS) bahwa satu dari empat anak perempuan di Indonesia menikah pada umur kurang dari 18 tahun pada 2008 hingga 2015.

Baca Juga :  Implikasi Tri Motto PMII, Dzikir Fikir dan Amal Sholeh

Sementara data dari Penelitian Pusat Kajian Gender dan Seksualitas Universitas Indonesia (PPKGS UI) 2015, menunjukkan angka perkawinan dini di Indonesia menempati peringkat kedua teratas dikawasan Asia Tenggara. Terdapat sekitar 2 juta dari 7,3 juta perempuan Indonesia berusia dibawah 15 tahun sudah menikah dan putus sekolah.

Sedangkan menurut data yang diperoleh dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA), terdapat 1.348.866 anak perempuan menikah dibawah usia 18 tahun pada 2018. Setiap tahun terdapat sekitar 300 ribu anak perempuan di Indonesia yang menikah di awah usia 16 tahun.

Dari data-data yang diuraikan diatas, sebagian besar yang menjadi latar belakangnya adalah kemiskinan. Secara tidak langsung pernikahan dini merupakan masalah yang dapat menjadi penghalau dari tercapainya kemerdekaan bagi seorang perempuan.

Seperti yang telah disampaikan diatas bahwa cukup banyak seorang perempuan yang putus sekolah gara-gara pernikahan dini. Sedangkan yang menjadi latar belakang dari pernikahan dini tersebut adalah minimnya ekonomi masyarakat.

Entah bagaimana sistem pemikiran masyarakat itu yang mengambil langkah pernikahan dini sebagai solusi untuk menghadapi masalah krisis ekonomi itu. Tapi yang jelas bagi saya langkah itu merupakan langkah yang sangat tidak baik, sebab mereka yang terputus pendidikannya akan kesulitan untuk memperoleh pengetahuan sehingga akibat dari keterbatasan pengetahuan tersebut akan menjadi pendorong bagi membengkaknya angka pengangguran.

Baca Juga :  Lowongan Kerja Sangat Spesifik Mengakibatkan Pengangguran

Terlepas dari pembahasan pernikahan dini sebagai salah satu solusi menghadapi masalah krisis ekonomi, disisi lain juga terdapat sebagian besar perempuan yang menjadi Pekerja Seks Komersial (PSK) lagi-lagi untuk menghadapi masalah krisis ekonomi.

Cukup banyak perempuan yang melanjutkan pendidikannya hingga perguruan tinggi akan tetapi dirinya memilih jalan sebagai PSK untuk dapat membayar biaya kuliah. Keterhimpitan ekonomi memang menjadi permasalah yang cukup pelik sehingga tindakan untuk memilih berbagai macam cara akan dilakukan untuk menghadapi permasalahan tersebut.

Terlepas dari nilai baik atau buruk, yang terpenting dirinya dapat bertahan hidup dan mampu melanjutkan pendidikan. Entahlah yang mana yang lebih baik, antara menikah diusia dini atau melanjutkan pendidikan dengan cara menjadi PSK, sungguh hal itu sangat dilema untuk dipilihnya.

Dua permasalahan bagi seorang perempuan yang mengakar pada ekonomi, apakah mungkin sumber dari masalah bagi seorang perempuan adalah ekonomi ?, mari kita coba bahas pada permasalahan yang lain. Bagaimanakah kehidupan seorang perempuan yang bergelimang harta dan mampu melanjutkan pendidikannya hingga perguruan tinggi ?.

Bagi seorang perempuan yang berasal dari keluarga berkecukupan tentu ekonomi tidak lagi menjadi permasalahan, bahkan pernikahan dini juga sulit kemungkinannya untuk terjadi. Namun bukan berarti dirinya akan terbebas dari segala macam bentuk penjajahan. Ditulis oleh Ruth Indiah Rahayu (Tuhan, Perempuan dan Pasar, 2019:46) sudah sejak abad 19 tubuh perempuan dijadikan pasar oleh para kapitalis.

Baca Juga :  Hasil Draw di Semi Final Leg Pertama Piala AFF 2022, Langkah Timnas Indonesia Semakin Berat Masuk Final

Tubuh molek perempuan menjadi sangat strategis untuk dijadikan pasar bagi segala macam produk, bermula dari sabun, lipstik, bedak, handbody dan segalam macam. Dengan hal itu maka jelas bahwa perempuan dimanfaatkan sehingga kaum perempuan pun didoktrin secara perlahan untuk hidup hedonis.

Perempuan hari ini sangat merasa tergantung pada segala macam makeup guna mempercantik dirinya. Akibatnya mereka tidak sadar bahwa sedang diperalat untuk memperoleh keuntungan dan hal itu sama sekali tidak disadari.

Setelah mereka sibuk mengurus hal demikian maka tujuan utumanya untuk memperoleh pendidikan pun dengan perlahan akan terlupakan sehingga tidak heran jika dirinya tidak sadar akan permasalah yang sedang menimpanya. Jadi kirisis ekonomi tidak dapat dijadikan sebagai akar permasalahan bagi seorang perempuan, sebab mereka yang berkecukupan juga berpotensi untuk terjajah kehidupannya.

Maka untuk itu yang harus dilakukan hari ini adalah membangun kesadaran agar tidak mudah terjajah, baik terjajah hidupnya dengan pernikahan dini ataupun terjajah dengan kehidupan yang hedonis. Menjadi haram hukumnya bagi seorang perempuan untuk benar-benar merdeka jika saja tidak mau sadar akan keadaannya yang sedang terjajah oleh berbagai macam pola kehidupan.

*Penulis adalah Mahasiswa STKIP PGRI Sumenep, Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (Prodi PBSI), beralamat Matanair, Rubaru, Sumenep. Aktif di PMII sekaligus Pimpinan Umum LPM Retorika STKIP PGRI Sumenep periode 2020-2021.

Baca berita lainya di Google News atau gabung grup WhatsApp sekarang juga!

Konten di bawah ini disajikan oleh advertnative. Redaksi Madura Post tidak terlibat dalam materi konten ini.