FARA Minta Proyek Saluran Air di Desa Branta Pesisir Dibongkar

  • Bagikan

PAMEKASAN, Madurapost.id – Proyek saluran air yang sumber dananya dari Dana Desa (DD) tahun 2020 di Dusun Tengah, Desa Branta Pesisir, Kecamatan Tlanakan Kabupaten Pamekasan terindikasi tidak sesuai regulasi dan terancam di bongkar.

Pantauan MaduraPost dilokasi, proyek saluran air yang dananya bersumber dari APBN tersebut material utamanya tidak menggunakan batu gunung atau batu galian seperti biasanya, akan tetapi menggunakan batu bata putih, dan tidak ada pondasi dasar.

Dari papan informasi yang terpajang dilokasi, diketahui jenis kegiatan tersebut adalah Saluran Pas. Bata + Tutup Plat Beton dan Jalan Rabat Beton, dengan Volume 232 m x 0,4 m x 0,5 m dan 232 m x 2,8 m yang jumlah anggarannya sebesar Rp 148.816.200,- dan Rp 98.251.850,-.

Ketua Forum Aspirasi Rakyat Madura (FARA) Abdur Rahman mengatakan, kalau dari fakta – fakta di lapangan dan berpedoman Peraturan Mentri Pekerjaan Umum, dirinya menduga kalau proyek saluran air tersebut hanya dijadikan memperkaya diri sendiri oleh Pemerintah Desa tersebut, Sabtu (04/07/2020).

BACA JUGA :  Puluhan Warga Sumenep Terjaring Razia Tak Pakai Masker

“Struktur tanah di Desa Branta Pesisir itu merupakan tanah yang gampang surut, maka oleh karena itu sangat fatal ketika material utamanya tidak menggunakan batu gunung, apa lagi kami lihat pada bagian pondasi dasar saluran tersebut hanya sebagian yang digali, artinya langsung ditindihkan,” katanya

Abdur Rahman meminta, supaya Pemerintah Desa Branta Pesisir bertanggung jawab dengan cara membongkar ulang pekerjaan tersebut.

“Alasan kami kenapa harus dibongkar, karena pembuatan RAB dan spesifikasi pekerjaan yang dilakukan Pemerintah Desa tersebut terindikasi tidak sesuai dengan juklak dan juknis pekerjaan serta tidak sesuai dengan Standart Nasional Indonesia (SNI),” jelasnya.

BACA JUGA :  Terindikasi Tak Sesuai Spek, Proyek Siluman di Desa Buddih Terancam Dilaporkan

Dalam hal tersebut dia berharap kepada penegak hukum agar mengambil langkah untuk menyikapi proyek saluran air itu.

“Harapan kami kepada Inspektorat, BPK dan penegak hukum untuk segera mengambil langkah untuk menyikapi proyek tersebut dengan cara membongkar dan mencari unsur kerugian negara serta pidanya, karena yang melihat ketahanan konstruksi saluran air itu yang dengan memakai bata tidak akan bertahan lama,” tegasnya.

Sementara itu, Kepala Desa Branta Pesisir Agus Istiklal pada saat dikonfirmasi oleh pihak media mengatakan, dengan menggunakan batu bata itu secara aplikasi dan teknis dilapangan sudah sesuai dengan Rancangan Anggaran Belanja (RAB).

“Dengan menggunakan batu bata putih itu terlihat lebih rapi, selain memang sudah disesuaikan dengan RAB, selain itu dari segi penataan dan proses pekerjaannya lebih efektif,” tuturnya.

BACA JUGA :  Fraksi PAN DPR RI Blusukan, Begini Reaksi Warga Desa di Sampang

Disoal terkait pondasi dasar, Agus Istiklal mengatakan, kalau dirinya lebih faham masalah kondisi tanah di Desanya itu.

“Kalau masalah pondasi kami lebih faham tanah disini, yang pertama tanah dilokasi proyek itu tidak bergerak, dan yang kedua tanah itu sudah melalui proses pengerasan secara berkala. Maka oleh karena itu secara testur saya bertanggung jawab,” dalihnya.

Kemudian dia menambahkan, kalau nantinya bermasalah atau tidak, yang terpenting dirinya sudah mengerjakan dengan apa yang dirinya tulis di RAB.

“Soal bermasalah atau tidaknya, yang penting saya sudah mengerjakan sesuai dengan yang saya tulis pada RAB,” pungkasnya. (Mp/nir/uki/rus) 

  • Bagikan