Scroll untuk baca artikel
Nasional

Erafzon Saptiyulda: Menjaga Marwah Jurnalisme dari Balik Meja Redaktur

Avatar
33
×

Erafzon Saptiyulda: Menjaga Marwah Jurnalisme dari Balik Meja Redaktur

Sebarkan artikel ini
MENGUJI. Potret Erafzon Saptiyulda, redaktur Perum LKBN ANTARA, saat mengunjungi peserta UKW Madya di Surabaya. (M.Hendra.E/MaduraPost)
MENGUJI. Potret Erafzon Saptiyulda, redaktur Perum LKBN ANTARA, saat mengunjungi peserta UKW Madya di Surabaya. (M.Hendra.E/MaduraPost)

CATATAN, MaduraPost – Di balik layar kantor redaksi LKBN ANTARA, ada sosok yang tenang tapi tajam. Namanya Erafzon Saptiyulda, seorang redaktur senior yang selama lebih dari dua dekade telah menjadi penjaga mutu dan arah pemberitaan di media resmi negara itu.

Wajahnya tak asing bagi para wartawan yang pernah menjalani Uji Kompetensi Wartawan (UKW) di bawah naungan Lembaga Pendidikan ANTARA.

SCROLL UNTUK MELANJUTKAN MEMBACA
SCROLL UNTUK MELANJUTKAN MEMBACA

Suaranya tegas namun ramah, gaya bicaranya lugas tapi tidak menggurui. Pak Era, begitu saya memanggil, bukan hanya seorang redaktur, tetapi juga seorang penguji yang membawa semangat luhur jurnalistik ke ruang ujian.

“Jurnalisme bukan cuma soal menulis, tapi bagaimana menulis dengan tanggung jawab,” katanya saat menguji para peserta UKW Madya di Surabaya, 30-31 Juli 2025 lalu.

Bagi Pak Era, menjadi penguji bukan hanya soal menilai. Ia hadir sebagai penjaga integritas profesi, memastikan bahwa para calon jurnalis utama tidak hanya kompeten secara teknis, tetapi juga matang secara etik.

Baca Juga :  Terlibat Penyalahgunaan Narkoba, Satresnarkoba Polrestabes Surabaya Amankan Seorang Sopir dan Penjaga Warung

Dari Ruang Redaksi ke Ruang Uji

Perjalanan karier Pak Era bermula dari bawah. Ia meniti karier sebagai wartawan lapangan di masa reformasi, di tengah gelombang besar kebebasan pers yang baru dirasakan bangsa ini. Berbagai dinamika politik dan sosial ia liput dengan ketekunan yang nyaris seperti ritual.

Lambat laun, ia naik menjadi redaktur. Dan sejak itu, Pak Era tak pernah main-main dengan urusan berita. Setiap naskah yang masuk ke mejanya diperiksa dengan seksama, tidak hanya soal fakta tapi juga logika, keberimbangan, dan etika.

“Kita bekerja untuk publik, bukan untuk selera pribadi,” ucapnya dalam satu sesi mentoring dengan peserta UKW Madya.

Baca Juga :  Nizar Zahro Meninggal Saat Istirahat Tidur Siang

Menjaga Etika, Bukan Sekadar Lulus

Dalam proses UKW, Pak Era dikenal sangat teliti. Ia tak mudah memberikan nilai tinggi, tapi juga bukan tipikal penguji yang mematikan semangat. Ia membimbing dengan narasi-narasi panjang, seringkali menyisipkan kisah nyata dari pengalamannya sendiri di dunia jurnalistik.

“Kalau Anda mengira lulus UKW berarti hebat, Anda keliru. Lulus UKW berarti Anda siap untuk terus belajar,” katanya suatu waktu. Kalimat yang menggugah sekaligus menyentil 6 peserta UKW Madya, di kelompok kami.

Ia menekankan bahwa UKW bukan sekadar formalitas. Ada ruh profesi yang harus dijaga. Ada standar yang tak boleh ditawar.

“Tugas wartawan bukan sekadar melaporkan, tapi juga mencerdaskan,” ujar dia.

Sosok yang Dirindukan dalam Setiap Proses Uji

Tak sedikit peserta UKW yang justru merasa beruntung ketika diuji oleh Pak Era. Ketegasannya melahirkan motivasi, dan komentarnya yang tajam menjadi pelajaran panjang yang tak habis dibaca.

Baca Juga :  APBD Kota Surabaya 2022 Disahkan, Fokus Anggaran di Tiga Sektor

“Pak Era bukan hanya menguji, tapi juga menginspirasi,” ujar wartawan MaduraPost, Miftahol Hendra Efendi, peserta UKW Madya yang ikut dalam gelombang Surabaya.

Kini, di usianya yang matang, Pak Era masih terus bergelut di medan jurnalistik. Di tengah tantangan era digital, hoaks, dan tekanan politik, ia tetap berdiri sebagai penjaga marwah jurnalistik. Tenang, tajam, dan tak tergoyahkan.

“Kalau jurnalis tak lagi dipercaya publik, maka demokrasi kehilangan arah,” katanya menutup sesi diskusi.

Dan dari ruang redaksi hingga ruang uji, Erafzon Saptiyulda terus menulis sejarahnya sendiri dalam diam, dalam kerja keras, dan dalam dedikasi yang tak pernah lelah.***