Scroll untuk baca artikel
Daerah

Disbudporapar Sumenep Kawal Pengakuan 5 WBTb, Tegaskan Komitmen Pelestarian Budaya

×

Disbudporapar Sumenep Kawal Pengakuan 5 WBTb, Tegaskan Komitmen Pelestarian Budaya

Sebarkan artikel ini
SIMBOLIS. Perwakilan Kabupaten Sumenep berpose usai menerima sertifikat Warisan Budaya Takbenda (WBTb) dari Pemerintah Provinsi Jawa Timur dalam seremoni apresiasi seniman dan pelaku budaya, Minggu (22/2/2025). (Istimewa for MaduraPost)
SIMBOLIS. Perwakilan Kabupaten Sumenep berpose usai menerima sertifikat Warisan Budaya Takbenda (WBTb) dari Pemerintah Provinsi Jawa Timur dalam seremoni apresiasi seniman dan pelaku budaya, Minggu (22/2/2025). (Istimewa for MaduraPost)

SUMENEP, MaduraPost – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sumenep, Madura, Jawa Timur, menunjukkan keseriusannya dalam memperkuat diplomasi kebudayaan di level provinsi.

Hal tersebut dibuktikan dengan menghadiri seremoni Penyerahan Apresiasi Seniman/Budayawan, Tunjangan Kehormatan Juru Pelihara Cagar Budaya, serta Sertifikat Warisan Budaya Takbenda (WBTb) yang dipimpin Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, pada Minggu (22/2/2025).

SCROLL UNTUK MELANJUTKAN MEMBACA
SCROLL UNTUK MELANJUTKAN MEMBACA

Pada kegiatan itu, Kepala Dinas Kebudayaan, Kepemudaan, Olahraga, dan Pariwisata (Disbudporapar) Sumenep, Faruk Hanafi, hadir mewakili Bupati Achmad Fauzi Wongsojudo.

Partisipasi tersebut dinilai bukan sekadar kehadiran seremonial, melainkan penegasan komitmen daerah dalam menjaga identitas serta memori kolektif masyarakat Madura.

Acara berlangsung khidmat dengan latar panggung bernuansa hijau toska dan deretan bendera Merah Putih. Forum ini menjadi ajang konsolidasi antara Pemerintah Provinsi Jawa Timur dan pemerintah kabupaten/kota untuk memperkuat upaya perlindungan cagar budaya dan warisan budaya takbenda.

Baca Juga :  64 Pasang Sapi Berlaga di Lomba Kerapan Sapi Piala Bupati Sumenep 2025

Bagi Sumenep, agenda tersebut menjadi momen penting. Sebanyak lima Warisan Budaya Takbenda asal daerah itu resmi memperoleh sertifikat pengakuan, yakni Tari Ghambu Sumenep, Tari Theng Terek, Mentho Sumenep, Jamasan Pusaka Sumenep, dan Bal Budhi.

Faruk Hanafi menyebut, pengakuan tersebut tidak berhenti pada aspek administratif. Menurutnya, sertifikasi itu merupakan legitimasi atas nilai filosofis, tradisi, serta kearifan lokal yang telah lama hidup dan diwariskan di tengah masyarakat.

“Warisan budaya takbenda adalah ruh kebudayaan kita. Ia tidak hanya berbentuk tarian atau tradisi, tetapi nilai, makna, dan kearifan lokal yang diwariskan lintas generasi,” ujar Faruk, Senin (23/2).

Ia memaparkan, Tari Ghambu dan Tari Theng Terek merepresentasikan seni pertunjukan khas Sumenep yang kaya nilai estetika sekaligus memiliki jejak historis kuat.

Baca Juga :  Empat Warga Desa di Pamekasan Tutup Jalan Rusak, Desak Pemerintah Turun Tangan

Sementara Mentho Sumenep dikenal sebagai kesenian rakyat yang tidak hanya menghibur, tetapi juga menjadi medium kritik sosial yang membumi.

Adapun tradisi Jamasan Pusaka Sumenep dipandang sebagai ritual sakral yang mencerminkan penghormatan terhadap pusaka dan sejarah leluhur.

Sedangkan Bal Budhi menjadi simbol kebijaksanaan lokal dalam menjaga keseimbangan sosial dan spiritual masyarakat.

“Pengakuan ini menjadi energi baru bagi kami untuk terus melakukan pendataan, pembinaan, dan regenerasi pelaku budaya. Tantangan terbesar adalah memastikan warisan ini tidak berhenti pada generasi hari ini,” tegasnya.

Faruk menekankan, pelestarian budaya membutuhkan sinergi lintas level pemerintahan. Kolaborasi dengan Pemerintah Provinsi Jawa Timur dinilai strategis agar kebijakan pelestarian di daerah berjalan searah dengan agenda provinsi.

Baca Juga :  Tidak Terima Anaknya Dipukul, Oknum Guru di Sampang Dipolisikan

“Kami siap memperkuat kolaborasi, mulai dari dokumentasi, digitalisasi, hingga penguatan ekosistem kebudayaan. Budaya bukan sekadar masa lalu, tetapi fondasi pembangunan berkelanjutan,” tambahnya.

Ia juga menyoroti pentingnya digitalisasi sebagai prioritas agar kekayaan budaya Sumenep terdokumentasi rapi dan mudah diakses publik, khususnya generasi muda.

Kehadiran Pemkab Sumenep dalam forum tersebut menegaskan arah pembangunan daerah yang tidak semata bertumpu pada infrastruktur dan ekonomi.

Penguatan identitas budaya diposisikan sebagai bagian penting dalam membangun karakter masyarakat.

Di tengah derasnya arus modernisasi, Sumenep memilih tetap berpijak pada akar tradisi merawat warisan leluhur, meneguhkan jati diri, dan melangkah ke masa depan dengan kepercayaan diri.***