Scroll untuk baca artikel
DaerahHeadlinePendidikan

Antisipasi Mark Up Siswa, Disdik Sumenep Akan Terapkan Ini

Avatar
×

Antisipasi Mark Up Siswa, Disdik Sumenep Akan Terapkan Ini

Sebarkan artikel ini

SUMENEP, MaduraPost – Antisipasi adanya penggelembungan jumlah siswa pada tahun 2020, Dinas Pendidikan (Disdik) Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur, akan menerapkan form pertanggungjawaban mutlak bagi pengawas pendidikan.

Langkah tersebut telah direncanakan Disdik dan akan dilakukan untuk satuan pendidikan dibawah Disdik Sumenep, meliputi tingkat Sekolah Dasar (SD) maupun Sekolah Menengah Pertama (SMP). Sehingga, kedepan tidak akan ada lagi sekolah yang melakukan penggelembungan jumlah siswa.

SCROLL UNTUK MELANJUTKAN MEMBACA
SCROLL UNTUK MELANJUTKAN MEMBACA
Baca Juga :  Marak Penyalahgunaan Narkoba di Pulau Kangean, Mahasiswa Demo Mapolres Sumenep

Hal itu dipaparkan Kepala Bidang (Kabid) Pembinaan SMP Disdik Sumenep, Edy Suprayitno. Dia menjelaskan, form pertanggungjawaban mutlak tersebut akan menjadi tanggungjawab penuh dari pengawas pendidikan.

“Kami sudah mengumpulkan semua pengawas pendidikan. Jadi semua pengawas kedepan akan diberi form pertanggungjawaban mutlak,” terang dia. Kamis (12/3).

Dari isi, form tersebut akan terdapat data pengawasan mulai dari Kegiatan Belajar Mengajar (KBM), jumlah siswa, jumlah guru, dan jumlah penerima dana Bantuan Operasional sekolah (BOS).

Baca Juga :  Sumenep Siap Gelar Karapan Sapi Piala Presiden 2025

“Data pengawasan itu, sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengawas pendidikan baik akademik mapun manajerial. Disitu nantinya pengawas akan tanda tangan bahwa KBM ada, gurunya ada dan siswanya ada,” paparnya.

Surat pertanggungjawaban mutlak tersebut, Edy Suprayitno menambahkan, nantinya akan sepenuhnya menjadi tanggungjawab dari pengawas. Hal tersebut yang menjadi penting, sebab yang tahu kondisi sekolah adalah pengawas yang bersangkutan.

Baca Juga :  Hakordia 2024, Kejari Pamekasan Berbagi 1000 Kaos dan Stiker ke Warga

“Dengan penerapan form pertanggung jawaban mutlak tersebut, kedepan diharapkan tidak akan ada lagi sekolah di Sumenep yang memanipulasi data. Seperti kejadian salah satu lembaga pendidikan di Desa Sabuntan, Kecamatan Sapeken beberapa waktu lalu, yang diduga kuat tidak profesional,” sambungnya. (mp/al/din)