Scroll untuk baca artikel
Daerah

AJI Indonesia Latih Jurnalis Jatim Hadapi Disinformasi Digital

Avatar
×

AJI Indonesia Latih Jurnalis Jatim Hadapi Disinformasi Digital

Sebarkan artikel ini
Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia melalui program Indo-Pacific Media Resilience (IPMR) menggelar Workshop Penelusuran Sumber Terbuka dan Disinformasi bagi jurnalis di Jawa Timur. (DOK)

SURABAYA, MaduraPost – Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia melalui program Indo-Pacific Media Resilience (IPMR) menggelar Workshop Penelusuran Sumber Terbuka dan Disinformasi bagi jurnalis di Jawa Timur.

Kegiatan yang diikuti sekitar 25 jurnalis dari berbagai kota di Jawa Timur tersebut berlangsung selama dua hari, mulai Sabtu (28/02/2026) hingga Minggu (01/03/2026) di Hotel Santika Pandegiling, Surabaya.

SCROLL UNTUK MELANJUTKAN MEMBACA
SCROLL UNTUK MELANJUTKAN MEMBACA

Workshop ini bertujuan untuk memperkuat kapasitas jurnalis dalam menghadapi praktik manipulasi informasi di ruang digital, khususnya melalui pemahaman metode Open Source Intelligence (OSINT) dalam menelusuri sumber terbuka.

Trainer sekaligus Ketua Bidang Internet AJI Indonesia, Adi Marsiela, menjelaskan bahwa salah satu ancaman yang perlu dipahami jurnalis adalah Foreign Information Manipulation and Interference (FIMI), yakni upaya manipulasi informasi yang dilakukan secara terkoordinasi oleh aktor asing untuk memengaruhi opini publik.

“FIMI merupakan perilaku manipulatif yang dapat mengancam nilai demokrasi dan proses politik, meskipun sebagian besar praktiknya masih berada di wilayah hukum yang abu-abu,” ujar Adi.

Selain FIMI, peserta juga mendapatkan materi mengenai Domestic Information Manipulation and Interference (DIMI). Co-trainer pelatihan, Artika Rachmi Farmita, menjelaskan bahwa DIMI merupakan bentuk manipulasi informasi yang terjadi di dalam negeri untuk memengaruhi opini publik atau kepentingan politik domestik.

“Operasi DIMI biasanya memanfaatkan media sosial dengan membuat konten yang seolah-olah berasal dari pengguna biasa,” jelasnya.

Pelatihan pada hari pertama juga diisi dengan praktik OSINT untuk menelusuri serta memverifikasi informasi digital yang berpotensi manipulatif.

Pada hari kedua, sesi diskusi menghadirkan akademisi hubungan internasional Universitas Airlangga, Radityo Dharmaputra, serta peneliti CELIOS, Yeta Purnama. Keduanya menyoroti bahwa arus informasi global sering kali sarat kepentingan politik yang dapat memengaruhi persepsi publik internasional.

Menurut mereka, sejumlah negara bahkan memanfaatkan informasi sebagai instrumen politik untuk memperkuat kepentingan domestik maupun geopolitik.

Peserta pelatihan asal Sumenep, Iqbal Fuadi Hasbuna, menilai pelatihan tersebut sangat penting bagi jurnalis dalam menghadapi maraknya disinformasi.

“Melalui pelatihan ini saya jadi lebih memahami bagaimana informasi bisa dipelintir untuk kepentingan politik tertentu,” ujarnya.

Hal serupa disampaikan anggota AJI Jember, Yuni, yang menilai banjir informasi manipulatif menuntut jurnalis memiliki kemampuan analisis yang kuat.

“Materi ini sangat relevan, bukan hanya untuk reporter, tapi juga pemimpin redaksi. Bahkan idealnya juga menjangkau masyarakat umum yang lebih rentan terpapar disinformasi,” katanya.***