SUMENEP, MaduraPost – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sumenep, Madura, Jawa Timur, memanfaatkan bulan suci Ramadan sebagai momentum mengakselerasi geliat ekonomi warga melalui Festival Bazar Takjil yang digelar di depan Labang Mesem, Museum Pendopo Agung Keraton.
Agenda tersebut menjadi bagian dari strategi daerah dalam memperkuat fondasi ekonomi kerakyatan berbasis partisipasi publik.
Ratusan pelaku usaha mikro memadati lokasi bazar dengan menawarkan beragam produk untuk berbuka puasa. Momentum Ramadan dimanfaatkan untuk mendongkrak omzet sekaligus memperluas jaringan pemasaran.
Bupati Sumenep, Achmad Fauzi Wongsojudo mengatakan, bahwa bazar takjil bukan sekadar kegiatan rutin bernuansa religi.
Menurutnya, festival tersebut dirancang sebagai bentuk konkret pemberdayaan pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).
“Ramadan tidak hanya bermakna ibadah spiritual, tetapi juga harus memberi dampak sosial dan ekonomi bagi masyarakat, khususnya pelaku usaha kecil,” ujarnya, Jumat (21/2).
Bupati Fauzi menekankan pentingnya menghadirkan ruang ekonomi kreatif yang terbuka dan inklusif. Pemerintah daerah, kata dia, berkomitmen mendorong UMKM agar terus tumbuh, naik kelas, dan memiliki daya saing lebih kuat.
“Keberpihakan kepada ekonomi kerakyatan harus diwujudkan lewat program nyata yang menyentuh kebutuhan pelaku usaha,” katanya.
Festival takjil dinilai efektif mempertemukan pedagang kecil dengan konsumen secara langsung.
Selain meningkatkan pendapatan harian, kegiatan ini juga mempererat interaksi sosial warga dalam suasana Ramadan yang penuh kebersamaan.
Pemerintah daerah memandang perputaran uang selama bulan puasa berpotensi meningkat signifikan jika dikelola secara terarah.
Karena itu, bazar juga difungsikan sebagai sarana promosi sekaligus pembelajaran bagi pelaku usaha pemula.
Bupati Fauzi tak lupa mengingatkan seluruh pedagang untuk menjaga kualitas produk. Ia menegaskan aspek kebersihan, higienitas, dan keamanan pangan tidak boleh diabaikan.
“Kepercayaan masyarakat adalah modal utama untuk membangun usaha yang berkelanjutan,” ucapnya.
Pedagang juga diminta menghindari praktik yang merugikan konsumen, termasuk penetapan harga yang tidak wajar. Produk harus dijual secara transparan dan tetap terjangkau agar bisa dinikmati seluruh lapisan masyarakat.
Pelayanan ramah serta kejujuran, menurutnya, menjadi kunci mempertahankan loyalitas pelanggan.
Pada penyelenggaraan Festival Bazar Takjil Ramadan 2026, tercatat 143 stan resmi berpartisipasi aktif. Di luar itu, sekitar 40 pelaku UMKM turut berjualan tanpa menggunakan fasilitas stan yang disediakan panitia.
Tingginya partisipasi menunjukkan besarnya antusiasme masyarakat dalam memanfaatkan peluang ekonomi Ramadan.
Beragam menu berbuka tersaji, mulai dari jajanan tradisional hingga kuliner modern yang digemari generasi muda. Minuman segar, camilan ringan, serta hidangan khas daerah memenuhi kawasan bazar setiap sore.
Menjelang azan magrib, area depan Labang Mesem Keraton dipadati pengunjung dari berbagai wilayah.
Keramaian tersebut menciptakan transaksi ekonomi yang cukup signifikan setiap hari. Bagi pedagang kecil, momen ini menjadi kesempatan menambah pendapatan sekaligus memperkenalkan produk unggulan mereka kepada pasar yang lebih luas.
Pihaknya berharap kegiatan serupa terus digelar dengan konsep yang semakin inovatif. Festival ini dinilai tidak hanya menggerakkan roda ekonomi, tetapi juga memperkuat solidaritas sosial masyarakat Sumenep.
Ramadan dijadikan titik temu antara penguatan nilai spiritual dan semangat gotong royong.
Keberadaan bazar turut memperindah wajah kota serta menghidupkan kawasan sekitar keraton bersejarah. Aktivitas ekonomi yang tumbuh selama Ramadan diharapkan berlanjut setelah bulan suci berakhir.
Pemerintah daerah optimistis UMKM Sumenep dapat berkembang pesat jika ditopang kebijakan berkelanjutan dan sinergi yang kuat antara pemerintah dan masyarakat. Semangat kemandirian usaha diyakini menjadi fondasi penting dalam mewujudkan kesejahteraan yang merata.
Dengan pengelolaan yang tepat, bazar takjil berpotensi menjadi agenda unggulan tahunan dengan skala lebih besar. Harapannya, Sumenep kian dikenal sebagai daerah religius yang juga kokoh dalam ekonomi lokal.***






