Scroll untuk baca artikel
Opini

Ketika Dapur MBG Belum Menyala

111
×

Ketika Dapur MBG Belum Menyala

Sebarkan artikel ini
Ditulis oleh: NURUS SOLEHEN

PROGRAM Makan Bergizi Gratis (MBG) adalah salah satu gebrakan pemerintah yang sejak awal diumumkan langsung menarik perhatian publik. Bayangan tentang anak-anak sekolah yang bisa menikmati makan siang bergizi tanpa biaya membuat banyak orang tersenyum optimis.

Akhirnya, kata banyak orang, pemerintah benar-benar memperhatikan kebutuhan dasar para pelajar: belajar dengan perut kenyang. Namun di balik semangat dan harapan besar itu, ada kenyataan yang masih perlu dibenahi.

SCROLL UNTUK MELANJUTKAN MEMBACA
SCROLL UNTUK MELANJUTKAN MEMBACA

Faktanya, hingga saat ini tidak semua sekolah bisa menikmati manfaat program MBG. Di sejumlah wilayah, siswa bahkan belum sekali pun mencicipi nasi kotak dari program yang digadang-gadang akan menurunkan angka stunting nasional itu.

Penyebabnya? Salah satunya adalah belum meratanya pembangunan dapur MBG.

Konsep MBG sederhana tapi strategis. Pemerintah menyiapkan dapur-dapur di setiap wilayah yang menjadi pusat pengolahan dan distribusi makanan bergizi bagi sekolah-sekolah sekitar.

Dari dapur inilah semua bahan makanan segar diolah sesuai standar gizi nasional, lalu diantarkan setiap hari ke sekolah penerima manfaat.

Sayangnya, sistem ini masih berjalan setengah jalan. Di beberapa daerah, dapur MBG sudah berdiri kokoh, lengkap dengan tenaga masak, peralatan higienis, dan sistem distribusi yang teratur.

Baca Juga :  Direktur Sang Baginda Resmikan MBG Yayasan Babur Rizki di Camplong Sampang

Namun di daerah lain, terutama wilayah pedesaan dan pelosok, dapur tersebut belum juga dibangun.

Akibatnya, ribuan siswa di daerah-daerah itu hanya bisa mendengar cerita tentang teman-temannya di tempat lain yang sudah merasakan makan bergizi gratis setiap siang.

Sementara mereka, masih harus membawa bekal seadanya dari rumah — bahkan ada yang hanya mengandalkan jajan di warung sekitar sekolah.

Pemerintah pusat sebenarnya sudah merancang tahapan pelaksanaan MBG agar berjalan secara bertahap dan terukur.

Tahap pertama difokuskan untuk daerah dengan akses mudah dan fasilitas memadai, sebelum diperluas ke wilayah lain. Pendekatan ini masuk akal agar kualitas makanan dan distribusinya tetap terjamin.

Tapi di sisi lain, pola bertahap ini menimbulkan kesenjangan rasa: sebagian pelajar sudah menikmati makan bergizi, sementara sebagian lainnya masih menunggu giliran yang belum jelas waktunya.

Beberapa daerah bahkan masih terkendala masalah lahan, perizinan, hingga koordinasi antar instansi.

Belum lagi urusan teknis seperti suplai bahan makanan, sumber air bersih, dan perekrutan tenaga dapur yang memang tidak bisa dilakukan asal-asalan. Semua ini membuat pelaksanaan di lapangan menjadi tidak secepat yang diharapkan.

Baca Juga :  Covid-19 Dilihat Dari Sudut Pandang Logika Realita dan Keimanan

Padahal, kalau ditarik ke makna dasarnya, MBG bukan hanya soal makan gratis. Program ini adalah investasi jangka panjang untuk masa depan bangsa. Anak-anak yang cukup gizi akan tumbuh lebih sehat, lebih fokus saat belajar, dan memiliki daya tahan tubuh yang kuat.

Bukan rahasia lagi, banyak pelajar di daerah terpencil seringkali berangkat sekolah tanpa sarapan, atau hanya minum teh hangat sebelum berangkat. Dalam kondisi seperti itu, sulit bagi mereka untuk berkonsentrasi penuh di kelas.

Program MBG sejatinya hadir untuk menutup celah itu — memastikan setiap anak Indonesia, dari kota hingga desa, mendapat hak yang sama untuk belajar dengan perut kenyang dan pikiran segar.

Namun jika dapur-dapur MBG belum merata, maka impian besar itu masih akan menggantung di udara.

Agar program ini benar-benar terasa manfaatnya, dibutuhkan percepatan pembangunan dapur di seluruh kabupaten dan kecamatan. Tidak hanya bergantung pada pemerintah pusat, tetapi juga melibatkan pemda, lembaga pendidikan, hingga masyarakat sekitar.

Baca Juga :  Persepsi Orang Madura Terhadap Pendidikan

Dapur MBG sejatinya bisa menjadi wadah gotong royong baru di tingkat lokal — tempat pemerintah, warga, dan relawan bekerja bersama untuk anak-anak.

Selain percepatan, aspek pengawasan dan evaluasi juga penting. Makanan yang disajikan harus sesuai standar gizi, aman dikonsumsi, dan benar-benar tepat sasaran. Program sebaik apapun akan kehilangan maknanya jika pelaksanaannya tidak diawasi dengan serius.

Program Makan Bergizi Gratis sudah membawa semangat besar: menyiapkan generasi muda yang sehat, kuat, dan cerdas. Namun, semangat itu tidak boleh berhenti di tataran slogan atau peresmian simbolik.

Selama masih ada anak sekolah yang menatap kosong ke arah dapur yang belum dibangun, berarti pekerjaan belum selesai. Harapan masyarakat sederhana: agar program ini tidak hanya bergizi di nama, tapi juga nyata di rasa.

Karena sejatinya, tidak ada masa depan yang kuat tanpa anak-anak yang sehat — dan tidak ada anak yang benar-benar bisa belajar dengan baik dalam keadaan lapar. (*)

*Penulis Adalah Redaktur MaduraPost