SCROLL UNTUK MELANJUTKAN MEMBACA
Headline

11 Rumah Akan Digusur, Warga Tolak Gor di Pulau Sapeken Direhab

Avatar
×

11 Rumah Akan Digusur, Warga Tolak Gor di Pulau Sapeken Direhab

Sebarkan artikel ini

SUMENEP, MaduraPost – Rencana rehab Gelanggang Olahraga (GOR) di Kecamatan Sapeken, Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur di tolak warga. Warga menolak, sebab dalam rehab GOR tersebut akan menggusur 11 rumah milik warga yang berada tepat dibelakang GOR.

Akbar, warga setempat, mewakili pemilik tanah menerangkan bahwa penggusuran rumah untuk renovasi GOR tersebut ditolak warga karena diduga tidak sesuai aturan.

SCROLL UNTUK MELANJUTKAN MEMBACA
SCROLL UNTUK MELANJUTKAN MEMBACA

“Penggusuran itu terjadi karena pembangunan masjid, rumah sakit dan sekolah. Sedangkan ini hanya untuk pembuatan lapangan takraw,” ungkapnya pada media, Sabtu (24/10).

Selain masalah penggusuran rumah warga, pihaknya juga mempermasalahkan tanah yang dipakai oleh pemerintah adalah tanah milik warga.

Sekitar tahun 1997 sampai 1998, cerita Akbar, tanah warga setempat dikontrakkan untuk kemudian dijadikan GOR. Namun, ahli waris hanya mengikhlaskan tanah untuk GOR saja, selebihnya tidak.

“Sisa tanah itu dipakai oleh 11 warga ini, dan mereka izinnya bukan ke pemerintah melaikan ke ahli waris sesuai adat yang berlaku, bawa tanah itu adalah milik beliau,” urainya.

Sesuai data liter C, luas tanah keseluruhan sekitar satu hektare lebih, didirikan GOR sekitar 976 hektare.

“Maklumlah, namanya masyarakat desa dulu hanya sistim barter. Namun, saat ini kami memiliki bukti berupa liter C nomor 1331, dan pajak terakhir tahun 2019 yang dibayar atas nama Moh. Roem sebagai ahli waris dari Moh. Sanusi,” jelasnya.

Pihaknya berharap, pemerintah setempat bisa menaungi hak-hak masyarakat. Jangan sampai, kata dia, hanya memanfaatkan ketidaktahuan masyarakat untuk mengambil hak-haknya.

“Salah satunya, dengan bukti mereka memegang sertifikat. Kalau dilihat datanya, dan kami sudah konsultasi dengan BPN suruh dinyatakan riwayatnya bagaimana. Dan yang terpenting, lihat liter C, lihat SPPT, lihat riwayatnya,” harapnya.

Dikonfirmasi terpisah, Camat Sapeken, Mohammad Aji Jailani menyatakan jika tanah GOR tersebut merupakan tanah milik pemerintah yang sudah bersertifikat Tanah Negara.

“Belum digusur. Itu tanah GOR yang ditempati oleh warga dan sudah bersertifikat tahun 2000 lalu,” katanya, saat dikonfirmasi media.

Bahkan, pihaknya bersama Dinas Pariwisata Kebudayaan dan Pemuda Olahraga (Disparbudpora) Sumenep telah melakukan investigasi terhadap tanah GOR tersebut.

“Itu masih mau direlokasi dan di tata, karena masih kawasan tanah pemerintah,” ujarnya.

Kedepan, pihaknya akan mendatangi warga untuk melakukan musyawarah bersama. Sementara dalam hal pembiayaan, pihaknya menegaskan warga akan dibantu oleh pemerintah.

Terkait tanah yang diklaim milik warga, pihaknya menegaskan bahwa tanah itu adalah tanah milik pemerintah yang sudah bersertifikat TN.

“Jika masyarakat disebagian tanah GOR itu juga mempunyai akte tanah, dan pemerintah punya sertifikat maka hal itu nantinya bisa dilakukan upaya pembanding,” jelasnya.

Versi Jailani, awalnya GOR tersebut adalah pasar tanah. Namun karena tidak begitu optimal kemudian dialih fungsikan menjadi GOR. Sedangkan tanah yang diklaim milik warga berada dibelakang area GOR, menurutnya, rumah warga tersebut bukanlah rumah permanen.

“Persoalan ini akan diselesaikan melalui musyawarah dengan warga untuk direlokasi. Sebagian warga juga ada yang sudah menerima,” tukasnya. (Mp/al/kk)

Baca berita lainya di Google News atau gabung grup WhatsApp sekarang juga!

Konten di bawah ini disajikan oleh advertnative. Redaksi Madura Post tidak terlibat dalam materi konten ini.